Pakar Keamanan Peringatkan Ancaman Serius pada Sistem AI yang Beroperasi

- Minggu, 08 Februari 2026 | 16:00 WIB
Pakar Keamanan Peringatkan Ancaman Serius pada Sistem AI yang Beroperasi

PARADAPOS.COM - Dunia bisnis kini berlomba mengadopsi Kecerdasan Buatan (AI) dari sekadar proyek percobaan menjadi mesin inti operasional. Perubahan ini melahirkan konsep "Pabrik AI", sebuah infrastruktur digital yang mengindustrialisasi pembuatan dan penyebaran model AI dalam skala besar. Namun, di balik efisiensi yang dijanjikan, muncul titik buta keamanan yang kritis: bagaimana melindungi sistem AI saat sedang berjalan (runtime) dari serangan yang semakin canggih.

Ancaman Nyata di Balik Skala Besar

Jayant Dave, Chief Information Security Officer (CISO) Check Point Software, menggarisbawahi bahwa tantangan utama para pemimpin teknologi saat ini bukan lagi sekadar ketersediaan perangkat keras. Fokus telah bergeser ke keamanan beban kerja masif yang dijalankan AI dari ancaman seperti injeksi prompt, peracunan model, atau pelanggaran infrastruktur.

Kekhawatiran ini bukannya tanpa dasar. Data terbaru menunjukkan bahwa ancaman tersebut sudah menjadi kenyataan bagi banyak organisasi.

"Laporan Gartner baru-baru ini mengungkapkan bahwa 32% organisasi telah mengalami serangan AI yang melibatkan manipulasi prompt, dan yang lebih mengkhawatirkan, 29% telah menghadapi serangan langsung terhadap infrastruktur GenAI mereka dalam setahun terakhir," ungkap Dave.

Fakta ini memicu kecemasan yang mendalam, di mana hampir separuh organisasi (49%) merasa sangat rentan dengan kerangka keamanan yang mereka miliki saat ini.

Keterbatasan Pertahanan Konvensional

Masalahnya, langkah pengamanan tradisional sering kali "buta" terhadap karakteristik unik operasi AI. Sistem tersebut kesulitan menganalisis pola lalu lintas dari Protokol Konteks Model (MCP) atau dinamika kompleks dalam sistem Retrieval-Augmented Generation (RAG). Kesenjangan kemampuan inilah yang membuka celah bagi penyerang.

Menyikapi hal ini, Dave menegaskan bahwa pendekatan keamanan harus berubah secara fundamental. Keamanan tidak bisa lagi dipandang sebagai fitur tambahan, melainkan harus menjadi fondasi yang terintegrasi sejak awal dalam arsitektur Pabrik AI.

Tiga Pilar Pertahanan Runtime

Solusi yang diajukan berpusat pada tiga pilar utama: visibilitas, isolasi, dan performa. Pertama, melalui konsep Zero-Impact Infrastructure Security yang memanfaatkan telemetri canggih untuk memindahkan pemrosesan keamanan ke unit pemrosesan data khusus. Hal ini memungkinkan pemantauan real-time dan isolasi beban kerja tanpa mengganggu kinerja GPU yang menjadi tulang punggung komputasi AI.

Kedua, perlindungan harus ditingkatkan di lapisan aplikasi 'agenik', tempat AI beroperasi secara otonom. Di sini, teknologi seperti Web Application Firewall (WAF) yang disesuaikan dapat memberikan perlindungan runtime untuk input dan output model bahasa besar (LLM), secara efektif mencegat ancaman di tingkat aplikasi.

"Paradigma keamanan harus bergeser dari sekadar 'tambahan' menjadi elemen mendasar," tegas Dave mengenai pendekatan baru ini.

Mengatur Faktor Manusia dan Masa Depan yang Terintegrasi

Pilar ketiga yang tak kalah krusial adalah mengelola elemen manusia. Pencegahan kebocoran data sensitif secara real-time menjadi kunci untuk memastikan kepatuhan regulasi dan menjaga integritas informasi dalam ekosistem AI yang kompleks.

Pesan strategisnya jelas: era di mana keputusan infrastruktur dan keamanan diambil secara terpisah telah berakhir. Membangun Pabrik AI yang tangguh memerlukan kepemimpinan yang menyatukan visi tersebut sejak awal.

"Revolusi AI harus diamankan di tingkat runtime, atau tidak akan aman sama sekali," lanjutnya, menekankan urgensi integrasi tersebut.

Pada akhirnya, masa depan AI yang berkelanjutan bergantung pada kemampuan organisasi untuk menyelaraskan kinerja tinggi dengan pertahanan siber yang kokoh, bukan sebagai afterthought, tetapi sebagai prinsip desain inti dalam setiap tahap operasinya.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar