Amien Rais Sebut Jokowi Resah, Peluang Gibran di PSI Dinilai Terbatas

- Rabu, 11 Februari 2026 | 01:25 WIB
Amien Rais Sebut Jokowi Resah, Peluang Gibran di PSI Dinilai Terbatas
Analisis: Respons Amien Rais Terhadap Prospek Politik PSI dan Gibran

PARADAPOS.COM - Ketua Majelis Syura Partai Ummat, Amien Rais, menyoroti kondisi politik yang dihadapi mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait masa depan putra bungsunya, Kaesang Pangarep, dan menantunya, Gibran Rakabuming Raka. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui kanal YouTube resminya pada Rabu, 11 Februari 2025, Rais menyebut Jokowi tampak resah menyusul prediksi sejumlah pengamat bahwa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) akan tetap menjadi partai kecil hingga Pemilu 2029. Keresahan ini, menurutnya, berakar pada fakta bahwa PSI merupakan satu-satunya kendaraan politik potensial bagi Gibran untuk maju dalam kontestasi Pilpres mendatang.

Kendala di Hadapan Gibran Rakabuming

Amien Rais secara gamblang meragukan peluang Gibran untuk memenuhi ambang batas pencalonan presiden yang ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Ia menilai, harapan untuk melihat Gibran lolos dari persyaratan tersebut hanyalah ilusi belaka. Pernyataannya ini menggarisbawahi tantangan struktural yang dihadapi oleh politisi yang mengandalkan partai dengan basis elektoral yang masih terbatas.

"Jadi mengharapkan Gibran Fufufafa bisa lolos menyeberangi jembatan KPU merupakan harapan kosong bak fatamorgana," ujarnya.

Survei dan Tekanan Politik

Selain kendala dari sisi partai, Rais juga mengangkat temuan beberapa lembaga survei yang disebutkannya sebagai sumber tekanan lain. Data-data tersebut, tuturnya, kerap memposisikan Gibran di peringkat bawah dalam berbagai simulasi bursa calon presiden 2029. Situasi ini dinilai menambah beban psikologis dan strategis di kubu pendukungnya, mengingat figur Gibran dianggap sebagai penerus utama dari proyek politik keluarga.

"Padahal hanya Gibran saja yang masih tersisa sebagai harapan Jokowi satu-satunya," lanjut Amien Rais, menyimpulkan analisisnya mengenai dinamika internal yang terjadi.

Pernyataan politisi senior ini menyoroti kompleksitas peta politik pasca-kepemimpinan Jokowi, di mana warisan politik dan regenerasi kepemimpinan menghadapi ujian nyata berupa mekanisme demokrasi elektoral dan persaingan yang ketat. Observasi semacam ini kerap muncul dari para aktor yang telah lama berkecimpung dan memahami gelombang pasang-surut kekuatan politik di Indonesia.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar