PARADAPOS.COM - Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks global ternama, melakukan penyesuaian signifikan terhadap daftar saham Indonesia dalam indeksnya. Dalam tinjauan Februari 2026, MSCI menurunkan peringkat saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) dari MSCI Global Standard Indexes ke segmen small cap. Sementara itu, dua emiten lain, PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk. (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk. (CLEO), dikeluarkan sepenuhnya dari MSCI Small Cap Indexes. Perubahan ini akan mulai berlaku efektif pada 2 Maret 2026.
Detail Perubahan dan Jadwal Efektif
Keputusan tersebut merupakan bagian dari hasil MSCI February 2026 Index Review yang diumumkan pada Senin, 10 Februari 2026. Dalam peninjauan kali ini, tidak ada saham Indonesia baru yang dimasukkan ke dalam indeks utama (Global Standard). Penurunan peringkat INDF dan penghapusan ACES serta CLEO menjadi satu-satunya perubahan untuk pasar Indonesia, sementara daftar MSCI Micro Cap Indexes tetap tidak berubah.
MSCI menegaskan jadwal implementasi perubahan ini dalam pengumuman resminya.
"Seluruh perubahan akan berlaku setelah penutupan perdagangan pada 27 Februari 2026 dengan tanggal efektif pada 2 Maret 2026," tulis lembaga tersebut.
Latar Belakang Kehati-hatian MSCI
Penyesuaian indeks ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Langkah MSCI ini muncul di tengah meningkatnya kehati-hatian lembaga tersebut terhadap kondisi pasar modal Indonesia. Kekhawatiran utama berpusat pada dua isu krusial: kualitas data kepemilikan saham publik (free float) dan aspek kelayakan investasi secara umum.
Isu ini sebenarnya telah berlangsung beberapa waktu. Pada akhir Januari 2026, MSCI sempat mengumumkan pembekuan sementara terhadap sejumlah perubahan indeks yang melibatkan saham Indonesia. Pembekuan itu dilakukan seiring evaluasi mendalam MSCI terhadap metodologi perhitungan porsi saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan publik.
Dalam keterangan terpisah pada 28 Januari, MSCI secara eksplisit menyebutkan bahwa masih terdapat "masalah mendasar terkait kelayakan investasi" di pasar saham Indonesia. Mereka pun menghentikan sementara penambahan saham baru ke dalam indeks serta membekukan penyesuaian jumlah saham yang dinilai tersedia bagi investor.
Dampak dan Kemungkinan Risiko ke Depan
Lebih dari sekadar free float, MSCI juga menyoroti kekhawatiran terhadap potensi distorsi harga saham melalui aksi-aksi terkoordinasi yang tidak wajar. Lembaga itu memberikan tenggat waktu hingga tinjauan pada Mei 2026 bagi Indonesia untuk menunjukkan kemajuan yang memadai dalam meningkatkan transparansi pasar. Jika tidak, MSCI membuka peluang untuk meninjau ulang status aksesibilitas pasar Indonesia secara keseluruhan.
Implikasinya bisa cukup serius. Peninjauan ulang status pasar berpotensi menurunkan bobot saham Indonesia di dalam MSCI Emerging Markets Index yang banyak dijadikan acuan investor global. Dalam skenario terburuk, tidak tertutup kemungkinan terjadi penurunan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier. Kekhawatiran ini semakin nyata mengingat rata-rata free float saham di Indonesia saat ini termasuk yang terendah di kawasan Asia.
Respons dan Langkah Bursa Efek Indonesia
Menyikapi perkembangan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) tidak tinggal diam. Pihak bursa menyampaikan akan mengadakan pertemuan lanjutan dengan tim teknis MSCI pada Rabu, 11 Februari 2026. Pertemuan ini dimaksudkan untuk membahas berbagai inisiatif dan proposal perbaikan yang telah disiapkan oleh regulator pasar modal dalam negeri.
Direktur Pengembangan BEI, Jeffrey Hendrik, menjelaskan agenda pertemuan tersebut.
"SRO dan OJK telah mengirimkan proposal ke MSCI dan pertemuan lanjutan di level teknis akan dilakukan kembali pada hari Rabu ini, tanggal 11 Februari 2026," jelasnya dalam konferensi pers, Senin (9/2).
Jeffrey menuturkan bahwa BEI bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah mengajukan sejumlah inisiatif konkret. Langkah-langkah ini dirancang selaras dengan delapan rencana aksi percepatan reformasi integritas pasar modal yang ditargetkan tuntas sebelum akhir 2026.
Beberapa inisiatif kunci yang diajukan antara lain penyempurnaan sistem klasifikasi investor, perluasan keterbukaan data kepemilikan saham, serta peningkatan ketentuan minimum free float bagi emiten. Selain itu, BEI juga mendorong penguatan tata kelola perusahaan dan peningkatan kompetensi di tingkat manajemen emiten. Semua upaya ini pada akhirnya diharapkan dapat memulihkan kepercayaan investor global terhadap kualitas dan transparansi pasar modal Indonesia.
Artikel Terkait
Polri Sita 30 Kilogram Sabu Senilai Rp54 Miliar di Banyuasin, Empat Tersangka Diamankan
MPR Tegaskan Komitmen Pemerintah Percepat Pemulihan Aceh Pascabencana
Kebakaran Gudang Pestisida di Tangsel Cemari Sungai, Ikan Mati Mengambang
Kreator Mohan Hazian Dituduh Pelecehan Seksual, Sejumlah Brand Putuskan Kerja Sama