PARADAPOS.COM - Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia, baik melalui penawaran saham perdana (IPO) maupun rights issue, diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh sentimen negatif yang membayangi pasar, terutama setelah lembaga pemeringkat Moody's memberikan outlook negatif terhadap Indonesia. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan membuat perusahaan berpikir ulang untuk mencari modal dari publik.
Dampak Outlook Negatif pada Pasar Modal
Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa penurunan outlook oleh Moody's akan berdampak langsung pada kemampuan perusahaan menghimpun dana. Menurutnya, iklim yang tidak mendukung saat ini membuat langkah IPO menjadi kurang menarik bagi banyak emiten.
"Situasi dan kondisi yang ada saat ini memang tidak begitu baik bagi perusahaan-perusahaan untuk IPO," ujarnya pada Kamis (12/2/2026).
Dampaknya tidak hanya berhenti di pasar saham. Nico menambahkan bahwa penerbitan obligasi korporasi juga akan terkena imbas. Outlook negatif cenderung mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, sebagai kompensasi atas risiko gagal bayar yang dianggap meningkat. Kenaikan biaya bunga ini tentu akan memberatkan kondisi keuangan korporasi, sehingga alternatif pendanaan di luar pasar modal mungkin akan lebih banyak dipertimbangkan.
Biaya Pendanaan yang Membengkak dan Tekanan pada IHSG
Pandangan senada disampaikan oleh pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy. Ia menilai berbagai sentimen negatif, termasuk penurunan outlook oleh beberapa lembaga pemeringkat, telah mengubah persepsi investor global terhadap risiko di Indonesia. Perubahan persepsi ini berujung pada meningkatnya biaya modal.
"Beberapa lembaga rating kan menurunkan outlook-nya, terakhir Moody’s. Itu berakibatnya di mata investor global, risiko pasar modal Indonesia meningkat dan akan membuat cost of fund naik," jelas Budi.
Konsekuensinya, proses raising fund di pasar modal diprediksi akan menjadi lebih mahal. Budi juga mengaitkan hal ini dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kenaikan discount rate, menurut analisanya, akan memberikan tekanan pada valuasi saham sehingga indeks diperkirakan masih akan kesulitan untuk kembali mendaki ke level psikologis 9.000.
Kondisi Pasar yang Masih Lesu
Data perdagangan Kamis (12/2/2026) memperlihatkan suasana hati pasar yang masih muram. IHSG ditutup melemah 0,31% ke posisi 8.265,35 setelah sempat bergerak di area terbatas sepanjang hari. Pergerakan saham tercatat lebih banyak mengalami penurunan, dengan 384 saham terkoreksi, sementara 294 saham mampu menguat dan 144 lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat berada di level Rp15.026 triliun.
Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi pasar modal domestik. Dengan biaya pendanaan yang diproyeksikan meningkat dan sentimen yang belum pulih sepenuhnya, gelaran penghimpunan dana korporasi diperkirakan akan memasuki periode yang lebih sepi dalam waktu dekat.
Artikel Terkait
Jaksa Agung Temukan Oknum Jaksa Gunakan Apartemen Sitaan Korupsi untuk Kepentingan Pribadi
Pidie Jaya Akhiri Status Tanggap Darurat, Masuki Masa Transisi 90 Hari
Jadwal Salat Jumat 13 Februari 2026 untuk Wilayah DKI Jakarta
PBB Kecam Insiden Penembakan oleh Petugas Imigrasi AS di Minneapolis