Outlook Negatif Moodys Tekan Aktivitas IPO dan Rights Issue di Pasar Modal

- Kamis, 12 Februari 2026 | 19:25 WIB
Outlook Negatif Moodys Tekan Aktivitas IPO dan Rights Issue di Pasar Modal

PARADAPOS.COM - Aktivitas penghimpunan dana di pasar modal Indonesia, baik melalui penawaran saham perdana (IPO) maupun rights issue, diperkirakan akan mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh sentimen negatif yang membayangi pasar, terutama setelah lembaga pemeringkat Moody's memberikan outlook negatif terhadap Indonesia. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya pendanaan dan membuat perusahaan berpikir ulang untuk mencari modal dari publik.

Dampak Outlook Negatif pada Pasar Modal

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, menjelaskan bahwa penurunan outlook oleh Moody's akan berdampak langsung pada kemampuan perusahaan menghimpun dana. Menurutnya, iklim yang tidak mendukung saat ini membuat langkah IPO menjadi kurang menarik bagi banyak emiten.

"Situasi dan kondisi yang ada saat ini memang tidak begitu baik bagi perusahaan-perusahaan untuk IPO," ujarnya pada Kamis (12/2/2026).

Dampaknya tidak hanya berhenti di pasar saham. Nico menambahkan bahwa penerbitan obligasi korporasi juga akan terkena imbas. Outlook negatif cenderung mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, sebagai kompensasi atas risiko gagal bayar yang dianggap meningkat. Kenaikan biaya bunga ini tentu akan memberatkan kondisi keuangan korporasi, sehingga alternatif pendanaan di luar pasar modal mungkin akan lebih banyak dipertimbangkan.

Biaya Pendanaan yang Membengkak dan Tekanan pada IHSG

Pandangan senada disampaikan oleh pengamat pasar modal Universitas Indonesia, Budi Frensidy. Ia menilai berbagai sentimen negatif, termasuk penurunan outlook oleh beberapa lembaga pemeringkat, telah mengubah persepsi investor global terhadap risiko di Indonesia. Perubahan persepsi ini berujung pada meningkatnya biaya modal.

"Beberapa lembaga rating kan menurunkan outlook-nya, terakhir Moody’s. Itu berakibatnya di mata investor global, risiko pasar modal Indonesia meningkat dan akan membuat cost of fund naik," jelas Budi.

Konsekuensinya, proses raising fund di pasar modal diprediksi akan menjadi lebih mahal. Budi juga mengaitkan hal ini dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kenaikan discount rate, menurut analisanya, akan memberikan tekanan pada valuasi saham sehingga indeks diperkirakan masih akan kesulitan untuk kembali mendaki ke level psikologis 9.000.

Kondisi Pasar yang Masih Lesu

Data perdagangan Kamis (12/2/2026) memperlihatkan suasana hati pasar yang masih muram. IHSG ditutup melemah 0,31% ke posisi 8.265,35 setelah sempat bergerak di area terbatas sepanjang hari. Pergerakan saham tercatat lebih banyak mengalami penurunan, dengan 384 saham terkoreksi, sementara 294 saham mampu menguat dan 144 lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar BEI tercatat berada di level Rp15.026 triliun.

Kondisi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi pasar modal domestik. Dengan biaya pendanaan yang diproyeksikan meningkat dan sentimen yang belum pulih sepenuhnya, gelaran penghimpunan dana korporasi diperkirakan akan memasuki periode yang lebih sepi dalam waktu dekat.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar