PARADAPOS.COM - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mendorong terobosan administratif untuk menjamin perawatan berkelanjutan Paralympic Training Center Indonesia di Karanganyar, Jawa Tengah. Fasilitas pelatihan atlet disabilitas yang baru saja menyelesaikan tahap pembangunan pertama itu dinilai sebagai aset strategis yang harus dijaga kondisinya, termasuk melalui mekanisme pendanaan dan kerja sama yang fleksibel dengan pihak ketiga.
Permintaan Terobosan Administratif
Saat meninjau fasilitas yang terletak di kaki Gunung Lawu tersebut, Erick Thohir menyoroti pentingnya perawatan pasca-pembangunan. Ia mengingatkan bahwa tanpa mekanisme yang baik, fasilitas berkelas internasional bisa mengalami masalah perawatan, meski telah dibangun dengan kerja sama swasta.
“Saya berharap juga nanti setelah fasilitas ini terlengkapi juga kondisinya tetap terawat. Untuk itu perlu adanya terobosan mekanisme administrasi agar jangan sampai perawatan ini yang telah ada kerja sama dengan swasta tapi pendanaannya mandeg atau tidak bisa,” ujarnya.
Fasilitas Kelas Regional di Kaki Gunung Lawu
Paralympic Training Center Indonesia, yang berdiri di atas lahan seluas lebih dari 80 ribu meter persegi di Desa Delingan, merupakan proyek yang dimulai pada Desember 2023 dan rampung setahun kemudian. Kompleks ini menawarkan gedung serbaguna seluas 17.482 m² dan asrama berlantai empat dengan kapasitas hampir 400 atlet.
Keberadaannya tidak hanya strategis secara geografis, tetapi juga menempati posisi penting sebagai pusat pelatihan atlet disabilitas di tingkat regional.
Mendorong Komersialisasi untuk Perawatan
Menanggapi tantangan perawatan aset olahraga pemerintah, Kemenpora telah berkoordinasi dengan Kementerian Dalam Negeri. Inti dari kebijakan ini adalah membuka ruang bagi komersialisasi yang bertanggung jawab, dengan syarat utama bahwa pendapatan yang dihasilkan dialokasikan kembali untuk pemeliharaan fasilitas.
“Komersialisasi itu boleh terbuka selama dipergunakan untuk prioritas perawatan aset tersebut. Sudah banyak pemerintah membangun fasilitas olahraga tapi pas perawatan tidak lancar ini yang perlu diperhatikan, untuk itu harus ada introspeksi diri,” jelas Menpora lebih lanjut.
Komitmen Jangka Panjang dan Dukungan Hibah
Erick Thohir menekankan bahwa fleksibilitas dalam pengelolaan harus terus didorong agar aset-aset olahraga, termasuk yang diserahkan kepada Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia, dapat terjaga dengan baik di bawah payung hukum yang berlaku. Komitmen jangka panjang ini dianggap krusial untuk mempertahankan nilai dan fungsi fasilitas.
Sebagai bentuk dukungan konkret, pemerintah melalui Kemenpora juga berencana memberikan bantuan biaya perawatan melalui sistem hibah. “Insha Allah Kemenpora akan membantu juga untuk biaya perawatan dengan sistem hibah. Semoga bisa berjalan dan aset yang terbaik dan pertama di Asia Tenggara ini bisa terus menjadi yang terbaik,” pungkasnya.
Artikel Terkait
BI Siapkan Rp2,9 Triliun Uang Baru untuk Ramadan dan Lebaran di Kepri
Dua Skema Gaji Apoteker: PNS Terstruktur, Swasta Dinamis dengan Karawang Tertinggi
BMKG: Daryono Mengundurkan Diri dari Jabatan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami
Libur Imlek dan Ramadan Dongkrak Penumpang Kereta Cepat Whoosh Lebih dari 20 Persen