PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat, 20 Februari 2026, menyusul tekanan dari bursa global. IHSG dibuka melemah 0,11 persen ke level 8.268, diikuti indeks LQ45 dan JII yang juga tercatat turun. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen hati-hati investor yang memantau dinamika pasar keuangan global dan ketegangan geopolitik.
Tekanan di Pasar Domestik
Pada sesi pembukaan, pelemahan IHSG ditahan oleh beberapa saham unggulan seperti SMGR, MEDC, dan BBRI. Namun, tekanan jual tetap muncul pada saham-saham lain seperti JPFA dan BRPT. Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya, di mana IHSG terkoreksi 0,43 persen.
Analisis sektoral menunjukkan tekanan terbesar masih berasal dari sektor keuangan dan perbankan, yang masing-masing tercatat merosot lebih dari satu persen. Sektor teknologi juga ikut terkoreksi. Di sisi lain, sektor bahan baku dan transportasi justru menunjukkan ketahanan dengan catatan penguatan yang signifikan, didorong oleh sentimen komoditas dan kenaikan harga minyak dunia.
Stabilitas di Pasar Uang dan Surat Utang
Di luar pasar saham, kondisi pasar keuangan Indonesia menunjukkan sinyal beragam. Nilai tukar rupiah relatif stabil, ditutup pada level Rp16.894 per dolar AS. Sementara itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun mengalami penurunan, mengindikasikan permintaan yang masih terjaga.
Yang patut dicatat, premi risiko Indonesia atau Credit Default Swap (CDS) 5 tahun berada di level 81,75 basis poin. Angka ini, meski perlu dipantau, masih mencerminkan persepsi risiko yang relatif terkendali di mata investor global.
Gelombang Pelemahan dari Wall Street dan Eropa
Sentimen negatif di pasar domestik tidak terlepas dari tekanan yang melanda bursa saham utama dunia. Wall Street ditutup melemah pada Kamis waktu setempat, dengan indeks Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq sama-sama tercatat merah.
Seorang analis pasar modal menjelaskan latar belakang tekanan ini. "Pelaku pasar terlihat mengurangi eksposur di sektor keuangan di tengah meningkatnya kehati-hatian terhadap risiko kredit swasta (private credit) yang dinilai berpotensi memicu tekanan likuiditas jika kondisi ekonomi memburuk," ungkapnya. Ia menambahkan, "Di sisi lain, dinamika hubungan AS–Iran kembali menjadi perhatian investor global."
Gelombang pelemahan turut menjalar ke bursa Eropa. Indeks FTSE 100 di London dan DAX di Frankfurt sama-sama terkoreksi, mencerminkan kehati-hatian yang meluas. Berbeda dengan dua kawasan tersebut, bursa Asia seperti Nikkei 225 Jepang justru mencatatkan penguatan, menunjukkan pergerakan yang variatif.
Pergerakan Komoditas dan Aset Safe Haven
Ketegangan geopolitik memberikan dampak langsung pada pasar komoditas. Harga minyak mentah WTI dan Brent melonjak lebih dari satu persen, didorong kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan. Kenaikan serupa juga terlihat pada harga emas, yang kerap dijadikan aset safe haven di masa ketidakpastian.
Secara keseluruhan, pasar global tampak masih berada dalam fase konsolidasi. Investor secara simultan menimbang berbagai faktor risiko, mulai dari prospek suku bunga, kondisi likuiditas di sektor keuangan, hingga perkembangan geopolitik yang dinamis. Dalam situasi seperti ini, volatilitas di berbagai kelas aset diprediksi masih akan berlanjut dalam jangka pendek.
Artikel Terkait
KRL Tangerang Alami Gangguan Usai Anjlok Tabrak Truk di Perlintasan Poris
Fenerbahce Dibantai Nottingham Forest, Lille dengan Verdonk Juga Tumbang
Indonesia-Amankan Perdagangan Bebas Tarif dengan AS, 4 Juta Pekerja Tekstil Diuntungkan
Hutama Karya Buka Pendaftaran Mudik Gratis Lebaran 2026 Mulai 20 Februari