Indonesia-Amankan Perdagangan Bebas Tarif dengan AS, 4 Juta Pekerja Tekstil Diuntungkan

- Jumat, 20 Februari 2026 | 04:50 WIB
Indonesia-Amankan Perdagangan Bebas Tarif dengan AS, 4 Juta Pekerja Tekstil Diuntungkan

PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia mengamankan kesepakatan dagang penting dengan Amerika Serikat yang diprediksi memberi angin segar bagi industri tekstil nasional. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan, Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru disepakati membuka akses bebas tarif untuk produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia ke pasar AS, berpotensi meningkatkan ekspor secara signifikan dan menjaga lapangan kerja bagi jutaan pekerja sektor tersebut.

Dampak Langsung bagi Tenaga Kerja dan Industri

Kesepakatan ini bukan sekadar pencapaian diplomatik, melainkan langkah konkret yang diperkirakan langsung menyentuh kehidupan pekerja. Dengan diterapkannya tarif impor nol persen dari AS, daya saing produk Indonesia di pasar global yang ketat diharapkan melonjak. Mekanisme teknisnya akan dijalankan melalui sistem tariff-rate quota (TRQ), yang dirancang untuk memastikan kelancaran arus perdagangan.

Airlangga Hartarto menekankan besarnya dampak sosial dari kebijakan ini. Dalam paparannya di Washington DC pada Jumat, 20 Februari 206, ia memberikan gambaran yang jelas.

"Keputusan ini akan berdampak positif bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor tekstil. Jika dihitung bersama keluarga, kebijakan ini menyentuh lebih dari 20 juta masyarakat Indonesia," jelasnya.

Peluang Ekspansi dan Target Jangka Panjang

Pasar Amerika Serikat, dengan ukuran yang disebutkan Airlangga sekitar 28 kali lipat pasar domestik Indonesia, memang menawarkan ruang pertumbuhan yang sangat luas. Pembebasan tarif ini diyakini akan memicu peningkatan kapasitas produksi di dalam negeri.

"Dengan adanya pembebasan tarif, kapasitas produksi diprediksi meningkat dan penyerapan tenaga kerja tetap terjaga," ungkap Menko Perekonomian.

Optimisme itu diterjemahkan ke dalam target ambisius namun terukur. Pemerintah memproyeksikan nilai ekspor produk tekstil dan pakaian jadi bisa melonjak hingga sepuluh kali lipat dalam kurun satu dekade. Targetnya, pertumbuhan dari angka sekitar USD 4 miliar menjadi USD 40 miliar dalam 10 tahun ke depan.

Jalan Panjang Negosiasi

Pencapaian kesepakatan yang menguntungkan ini merupakan buah dari proses negosiasi yang panjang dan intens. Jejaknya bisa ditarik sejak April 2025, ketika AS pertama kali mengumumkan kebijakan tarif resiprokal. Pada fase awal, Indonesia sempat dikenakan tarif impor setinggi 32 persen, sebuah angka yang tentu memberatkan.

Melalui serangkaian perundingan, posisi tarif akhirnya berhasil diturunkan menjadi 19 persen sebagai dasar. Namun, negosiasi tidak berhenti di situ. Upaya diplomasi ekonomi yang gigih akhirnya membuahkan hasil lebih baik melalui ART, dengan Indonesia berhasil mengamankan tarif preferensial yang jauh lebih rendah, yakni antara 0 hingga 10 persen, untuk sejumlah produk unggulan. Perjalanan ini menggambarkan dinamika dan ketelitian yang diperlukan dalam perundingan perdagangan internasional.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar