Menlu RI Serukan Kepemimpinan AS Awasi Aksi Militer Israel di Tepi Barat

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 01:25 WIB
Menlu RI Serukan Kepemimpinan AS Awasi Aksi Militer Israel di Tepi Barat

PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyampaikan keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan di Tepi Barat dalam pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio. Pertemuan bilateral yang digelar di Washington DC, Kamis (19/2), menyusul Konferensi Tingkat Tinggi Dewan Perdamaian Gaza, menjadi forum bagi Indonesia untuk menyerukan peran kepemimpinan AS dalam mengawasi tindakan militer Israel dan memastikan kelangsungan proses perdamaian.

Seruan Atas Kekhawatiran Bersama Negara D8

Dalam dialog tersebut, Menlu Sugiono secara khusus mengangkat keresahan yang dirasakan Indonesia dan sesama negara anggota Developing Eight (D8) mengenai situasi di Palestina. Ia menekankan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyoroti pola kekerasan sistematis yang mengkhawatirkan. Menurut laporan PBB, aksi-aksi yang dilakukan oleh militer Israel di Tepi Barat berpotensi mengarah pada praktik penghapusan etnis (ethnic cleansing) terhadap warga Palestina.

Dengan nada serius, Sugiono menjabarkan posisi kolektif yang disampaikannya kepada pihak Amerika Serikat. "Saya menyampaikan concern dari beberapa negara yang ada di Grup (D) 8 ini terkait situasi terkini di Palestina dan di Tepi Barat, dan kita semua meyakini bahwa kepemimpinan Amerika Serikat untuk bisa menghentikan atau menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi, atau masih terjadi di sana," tuturnya kepada awak media di Washington DC, Jumat (20/2) malam waktu setempat.

Harapan Agar Rencana Perdamaian Tidak Terganggu

Lebih dari sekadar menyampaikan keprihatinan, pertemuan itu juga menjadi ajang untuk menyelaraskan langkah ke depan. Sugiono menyatakan harapan agar pengawasan yang lebih ketat dari Amerika Serikat dapat mencegah aksi-aksi militer yang justru menghambat implementasi rencana Dewan Perdamaian Gaza. Hal ini dianggap crucial untuk memastikan proses perdamaian dapat bergerak ke fase-fase berikutnya tanpa gangguan.

Organisasi D8, yang beranggotakan negara-negara berkembang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia, Turki, Mesir, dan Bangladesh, dijadikan basis dukungan dalam diplomasi ini. Dalam penjelasan lebih lanjut, Sugiono menegaskan kembali harapan kolektif tersebut. "Kami semua meyakini bahwa kepemimpinan AS untuk bisa menghentikan atau menyelesaikan permasalahan yang sedang terjadi atau masih terjadi di sana, dan berharap agar supervisi yang dilakukan atau pengawasan yang dilakukan itu bisa membuat apa yang menjadi rencana Board of Peace ini bisa terus berlanjut ke fase berikutnya," jelasnya.

Pembahasan Bilateral yang Lebih Luas

Meski isu Palestina mendominasi, percakapan kedua menteri luar negeri itu tidak terbatas pada satu topik saja. Pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk membahas dinamika hubungan bilateral antara Jakarta dan Washington. Sugiono mengungkapkan bahwa berbagai bidang kerja sama, mulai dari pertahanan dan keamanan hingga ekonomi dan hubungan masyarakat, turut menjadi bahan diskusi.

Selain itu, situasi keamanan kawasan yang lebih luas juga tidak luput dari perbincangan. "Kemudian juga situasi terkini terkait kawasan, apakah itu Indo-Pasifik ataupun ASEAN dalam lingkup yang lebih kecil," ungkapnya, menandaskan bahwa dialog tersebut bersifat komprehensif dan melihat hubungan strategis antara kedua negara dalam konteks global yang lebih kompleks.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar