Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar ke Taipan Batu Bara dalam Lelang Amal

- Jumat, 20 Februari 2026 | 10:50 WIB
Lukisan SBY Terjual Rp6,5 Miliar ke Taipan Batu Bara dalam Lelang Amal

PARADAPOS.COM - Sebuah lukisan bertajuk "Kuda Api" karya Presiden keenam Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terjual dengan harga fantastis, Rp6,5 miliar, dalam sebuah lelang amal. Pembelinya adalah pengusaha batu bara Low Tuck Kwong. Transaksi yang terjadi dalam acara perayaan Imlek yang digelar Partai Demokrat ini memicu beragam tafsir di publik, antara apresiasi seni dan amal, serta spekulasi mengenai dinamika relasi di baliknya.

Respons Partai Demokrat: Nilai Seni dan Momentum Amal

Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Herman Khaeron, membenarkan transaksi tersebut. Ia menilai harga tinggi yang tercapai wajar mengingat magnet khusus dari sang pelukis, yang tak hanya dikenal sebagai mantan presiden tetapi juga seorang seniman.

"Tentu lukisan Pak SBY memiliki daya tarik tersendiri, selain lukisannya bagus dan memiliki makna, juga sangat jarang di dunia internasional mantan presiden yang bisa melukis," tuturnya.

Hero, sapaan akrabnya, menegaskan bahwa lelang karya SBY untuk tujuan sosial bukanlah hal baru. Namun, momen perayaan Imlek kali ini dinilainya membawa keberkahan tersendiri, sehingga mampu menggalang dana yang signifikan.

"Dan kami berterima kasih kepada yang telah berpartisipasi dalam lelang lukisan, karena ternyata terjual dengan harga Rp6,5 miliar. Semua ini karena momentum Imleklah yang mempertemukan keberkahan ini," pungkasnya.

Ia memastikan seluruh hasil lelang akan disalurkan untuk membantu korban bencana dan masyarakat kurang mampu.

Profil Pembeli: Sang Raja Batu Bara

Lukisan tersebut tidak jatuh ke tangan sembarang kolektor. Low Tuck Kwong, pria kelahiran Singapura yang kini berkewarganegaraan Indonesia, adalah pendiri Bayan Group, salah satu raksasa batu bara di tanah air. Berdasarkan catatan Forbes, kekayaannya pada tahun 2026 diperkirakan mencapai US$20,3 miliar, menempatkannya di jajaran orang terkaya Indonesia.

Profil Low inilah yang kemudian memantik pertanyaan lebih lanjut. Keberhasilannya membangun bisnis tambang yang masif terjadi dalam kurun waktu yang beririsan dengan periode kepemimpinan SBY, ketika sektor sumber daya alam mengalami perkembangan pesat.

Pertanyaan yang Menggelayut di Ruang Publik

Di titik ini, narasi sederhana tentang apresiasi seni dan kedermawanan mulai diuji. Publik secara alamiah mempertanyakan apakah transaksi senilai miliaran rupiah antara seorang mantan presiden dan seorang taipan batu bara benar-benar steril dari konteks politik dan bisnis masa lalu.

Meski tidak ada pernyataan resmi yang mengaitkan transaksi ini dengan relasi tertentu, ruang untuk spekulasi tetap terbuka. Dalam pandangan banyak pengamat, transaksi semacam ini jarang bersifat tunggal; selalu ada lapisan makna yang lebih dalam ketika melibatkan figur pada level tersebut.

Bisa jadi ini murni bentuk penghormatan terhadap reputasi SBY sebagai negarawan sekaligus seniman. Bisa juga merupakan dukungan tulus terhadap kegiatan amal partai. Namun, dalam iklim politik dan ekonomi Indonesia yang kompleks, transaksi bernuansa tinggi seperti ini hampir pasti akan dibaca dengan kacamata yang lebih kritis. Publik, dengan haknya, berharap ada transparansi dan kejelasan yang melampaui narasi seremonial belaka.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar