PARADAPOS.COM - Presiden Lebanon, Jenderal Michel Aoun, secara tegas mengutuk serangan udara Israel yang menewaskan 12 warga sipil di wilayah selatan dan timur Lebanon pada Jumat (20/2/2026). Serangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik internasional untuk mempertahankan gencatan senjata yang berlaku sejak November 2024, dan menimbulkan ketegangan baru di perbatasan yang sudah lama memanas.
Kutipan Keras dari Istana Kepresidenan
Melalui pernyataan resmi yang dikutip oleh kantor berita AFP pada Sabtu (21/2), Aoun menyampaikan kecamannya dengan nada yang keras. Ia menilai serangan ini bukan sekadar pelanggaran, melainkan sebuah tindakan yang disengaja untuk merusak proses perdamaian.
"Ini adalah tindakan agresi terang-terangan yang bertujuan untuk menggagalkan upaya diplomatik," ujarnya, merujuk pada inisiatif yang dipimpin Amerika Serikat dan negara-negara lain untuk membangun stabilitas di kawasan tersebut.
Dampak Langsung terhadap Proses Diplomasi
Gelombang reaksi tidak hanya berhenti di pernyataan kecaman. Serangan ini langsung memicu respons politik dari dalam negeri Lebanon. Seorang anggota parlemen dari kelompok Hizbullah, yang merupakan kekuatan politik dan militan utama di Lebanon, segera menyerukan tindakan balasan secara diplomatik.
Anggota parlemen tersebut meminta pemerintah Lebanon untuk menangguhkan pertemuan komite multinasional yang bertugas memantau pelaksanaan gencatan senjata. Komite yang beranggotakan lima negara, termasuk Amerika Serikat, itu rencananya akan kembali bersidang pada minggu depan.
Klaim Militer dan Korban Jiwa
Di lapangan, situasinya terlihat suram. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa dari 12 korban jiwa, 10 di antaranya gugur dalam serangan di wilayah timur Lebanon. Sementara itu, militer Israel mengeluarkan pernyataan terpisah yang membenarkan serangan mereka.
Militer Israel mengklaim operasi tersebut menargetkan beberapa militan dari unit rudal Hizbullah di tiga pusat komando berbeda di daerah Baalbek, wilayah yang dianggap sebagai benteng kelompok tersebut. Pola serangan seperti ini—meski gencatan senjata berlaku—telah terjadi berulang kali, dengan Israel biasanya beralasan menargetkan Hizbullah dan kadang sekutunya, Hamas.
Insiden terbaru ini kembali menyoroti rapuhnya kesepakatan gencatan senjata dan kompleksitas konflik di perbatasan Lebanon-Israel, di mana satu serangan dapat dengan cepat mengikis kepercayaan dan menggagalkan bulan-bulan upaya mediasi internasional.
Artikel Terkait
Prabowo Umumkan Indonesia Miliki Lahan 45 Hektare dan Rencana Terminal Khusus Haji di Mekkah
IHSG Melonjak 4,45% Didorong Sentimen Positif dan Saham Grup Prajogo Pangestu
Presiden Jokowi Umumkan Penurunan Biaya Haji Rp2 Juta untuk Tahun 2026
Puspom TNI dan Divpropam Polri Perkuat Sinergi Penegakan Hukum Internal