Kemendikdasmen Revitalisasi 389 SMK dan Salurkan Ribuan Papan Digital untuk Perataan Pendidikan

- Selasa, 24 Februari 2026 | 09:50 WIB
Kemendikdasmen Revitalisasi 389 SMK dan Salurkan Ribuan Papan Digital untuk Perataan Pendidikan

PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) secara aktif mendorong pemerataan kualitas pendidikan di seluruh wilayah. Upaya strategis ini diwujudkan melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan dan Digitalisasi Pembelajaran yang telah berjalan sejak tahun 2025. Fokus utama program ini adalah memperbaiki infrastruktur sekolah dan memperluas akses terhadap teknologi pembelajaran, khususnya di kawasan timur Indonesia.

Dampak Nyata Revitalisasi di Kawasan Timur

Program revitalisasi telah menjangkau 389 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Alokasi anggaran untuk perbaikan fasilitas ini melampaui Rp649 miliar. Hasilnya, sekolah-sekolah yang sebelumnya mengalami keterbatasan kini memiliki ruang belajar yang lebih layak.

Elisabeth Nena, Kepala SMK Sanjaya Bajawa di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, merasakan langsung transformasi tersebut. Delapan ruang kelas, toilet, serta ruang administrasi dan perpustakaan di sekolahnya berhasil direvitalisasi.

“Dulu kami harus berpindah-pindah ruang karena kondisi bangunan rusak. Sekarang ruangan sudah nyaman dan pembelajaran bisa berjalan lebih tenang,” tuturnya dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa, 24 Februari 2026.

Digitalisasi Pembelajaran dengan Teknologi Interaktif

Selain perbaikan fisik, program ini juga menyasar aspek digital dengan menyalurkan Papan Interaktif Digital (PID) atau Interactive Flat Panel (IFP) ke 1.972 SMK. Teknologi ini dirancang untuk mengubah metode pengajaran konvensional menjadi lebih dinamis dan menarik minat siswa.

Pengalaman serupa diungkapkan oleh Petronela Baranyanan, Kepala SMK Gotong Royong Tobelo di Halmahera Utara, Maluku Utara. Kehadiran PID di kelasnya menciptakan atmosfer belajar yang berbeda.

“Dengan PID, siswa lebih antusias berdiskusi dan mempresentasikan hasil belajar mereka. Pembelajaran jadi lebih kontekstual,” jelasnya.

Strategi Terpadu untuk Pemerataan Pendidikan

Kebijakan ini bukanlah dua program yang terpisah, melainkan sebuah strategi terpadu. Revitalisasi infrastruktur dipandang sebagai fondasi, sementara digitalisasi adalah jembatan untuk mengatasi kesenjangan akses terhadap materi dan metode pembelajaran modern.

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, menegaskan hal tersebut. Menurutnya, kedua aspek ini saling melengkapi untuk mencapai tujuan utama.

“Revitalisasi membangun fondasi fasilitas yang layak, sementara digitalisasi membuka akses pembelajaran yang lebih luas. Kami ingin memastikan setiap anak di mana pun berada mendapat kesempatan belajar yang sama,” ujarnya.

Dari lapangan, terlihat bahwa kombinasi perbaikan sarana fisik dan penyediaan alat digital mulai menunjukkan dampak. Meski tantangan geografis dan infrastruktur tetap ada, langkah ini dianggap sebagai terobosan penting untuk mendekatkan siswa di daerah dengan standar pendidikan yang lebih merata dan berkualitas.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar