PARADAPOS.COM - Gelombang kejahatan begal di Jakarta dan sekitarnya memasuki fase yang semakin mengkhawatirkan. Bukan hanya soal kehilangan harta benda, para pelaku kini tak segan melukai hingga menghabisi nyawa korban di titik-titik jalanan sepi. Menyikapi situasi darurat ini, Polda Metro Jaya langsung bergerak dengan menerjunkan Tim Pemburu Begal yang bersiaga penuh selama 24 jam. Hasilnya, sebanyak 173 tersangka berhasil diamankan dalam waktu singkat. Namun, di balik angka penangkapan itu, para ahli justru menyoroti akar masalah yang jauh lebih dalam: degradasi moral dan krisis sosial yang telah membudaya.
Tim Khusus dan Tindakan Tegas di Lapangan
Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Iman Imanuddin, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan memberi ruang bagi para pelaku. Tim Pemburu Begal yang dikerahkan bekerja tanpa jeda, mengincar titik-titik rawan yang selama ini menjadi lokasi favorit aksi begal.
"Kami tidak ragu-ragu mengambil tindakan sesuai undang-undang untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat," tegas Iman dalam dialog Primetime News, Metro TV, Senin 25 Mei 2026.
Pernyataan itu keluar dengan nada tegas, mencerminkan tekanan yang dirasakan aparat di lapangan. Patroli diperketat, operasi senyap digelar, dan setiap laporan warga ditindaklanjuti dengan cepat. Namun, di tengah hiruk-pikuk penegakan hukum, pertanyaan mendasar mulai mengemuka: apakah pendekatan represif saja cukup?
Motif Bergeser: Dari Kebutuhan ke Eksistensi
Kriminolog Haniva Hasna mengungkapkan bahwa pola kejahatan jalanan saat ini tidak lagi sederhana. Menurutnya, motif ekonomi bukan lagi satu-satunya pemicu. Ada pergeseran yang mengkhawatirkan.
Begal tak lagi murni karena himpitan ekonomi, melainkan ajang eksistensi unjuk gigi kelompok remaja, hingga dorongan agresivitas akibat pengaruh narkoba.
Pernyataan ini membuka perspektif baru. Aksi begal kini kerap dilakukan secara berkelompok, dengan kekerasan yang berlebihan dan tanpa rasa takut. Bagi sebagian pelaku, merampas nyawa seolah menjadi bagian dari ritual untuk menunjukkan kekuasaan di jalanan.
Krisis Empati dan Pengasuhan yang Retak
Dari sisi psikologis, fenomena ini tak kalah memprihatinkan. Psikolog Klinis Senior Ratih Ibrahim menyoroti adanya proses dehumanisasi yang parah pada diri para pelaku. Ia menilai bahwa krisis ini berakar dari lingkungan paling dasar, yaitu keluarga.
Ia menilai krisis ini berawal dari kurangnya pengasuhan yang sehat di dalam keluarga, membuat pelaku menganggap nyawa korban sekadar objek tanpa nilai.
Ungkapan itu menggambarkan betapa dalamnya luka sosial yang menganga. Ketika empati mati, nyawa manusia kehilangan maknanya. Pelaku tak lagi melihat korban sebagai sesama, melainkan sebagai sasaran yang bisa dihabisi tanpa beban.
Antara Hukum dan Moral yang Tergerus
Pihak kepolisian telah merapatkan barisan. Patroli diperkuat, tindakan tegas terus digencarkan. Namun, melihat kekerasan yang telah membudaya akibat krisis moral dan lingkungan, muncul keraguan yang tak bisa diabaikan. Apakah penegakan hukum saja sudah cukup untuk menghentikan teror begal ini?
Jawabannya mungkin tidak sederhana. Tanpa perbaikan sistem pengasuhan, tanpa penguatan moral sejak dini, dan tanpa pemulihan empati sosial, angka penangkapan hanyalah angka. Teror di jalanan bisa reda sejenak, tapi akar masalahnya tetap tertanam dalam.
Editor: Andri Setiawan
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Dua Atlet Dayung Remaja Ditemukan Tewas Tenggelam di Sungai Laes Pemalang
Venerable Jue Cheng Ajak Umat Buddha Teladani Welas Asih Buddha dan Prioritaskan Pendidikan Generasi Muda di Hari Waisak
256.369 dari 871.496 Peserta Lolos UTBK-SNBT 2026, Peluang Masih Terbuka Lewat Jalur Mandiri
Sekutu Netanyahu Bahas Pelarangan Partai Arab Ra’am dan Penetapan Gerakan Islam sebagai Organisasi Teroris