PARADAPOS.COM - Badan Narkotika Nasional (BNN) mengidentifikasi tiga kawasan utama dunia yang menjadi sumber pasokan narkoba ke Indonesia. Ketiga wilayah itu, yang dikenal dengan sebutan Golden Triangle, Golden Crescent, dan Golden Peacock, menjadi pusat produksi dan distribusi global yang terus mengancam stabilitas keamanan nasional. Pemetaan ini disampaikan langsung oleh Kepala BNN RI, Komjen Suyudi, dalam keterangannya kepada wartawan pada Senin (24/2), sebagai bagian dari upaya memahami pola ancaman narkotika internasional yang semakin kompleks.
Golden Triangle: Pusat Sabu di Asia Tenggara
Jaringan pertama yang menjadi sorotan adalah Golden Triangle atau Segitiga Emas. Kawasan yang meliputi wilayah Myanmar, Thailand utara, dan Laos utara ini telah lama dikenal sebagai sarang produksi narkoba sintetis. Menurut Suyudi, kawasan ini merupakan episentrum bahaya narkoba jenis tertentu di regional Asia Tenggara.
“Kawasan Golden Triangle, yang mencakup Myanmar, Thailand utara, dan Laos utara, merupakan salah satu sumber utama produksi narkoba sintetis, terutama metamfetamin (sabu), di Asia Tenggara,” jelasnya.
Golden Crescent: Sumber Opium dan Heroin Global
Selain ancaman dari Asia Tenggara, BNN juga memantau dengan ketat jaringan yang berasal dari kawasan Asia Barat. Jaringan ini dikenal dengan nama Golden Crescent atau Bulan Sabit Emas, yang wilayah operasinya membentang di Afghanistan, Iran, dan Pakistan. Kawasan ini memiliki peran yang sangat berbeda dalam peta peredaran gelap narkotika dunia.
“Lokasi utama global untuk produksi opium dan heroin,” ungkap Suyudi mengenai kawasan tersebut.
Golden Peacock: Ancaman dari Benua Amerika
Ancaman ketiga datang dari belahan dunia yang lain, yaitu jaringan Golden Peacock. Berbeda dengan dua jaringan sebelumnya, jaringan ini beroperasi dari Amerika Selatan, dengan Brasil dan Meksiko sebagai titik pusatnya. Modus dan jenis narkoba yang diedarkan dari kawasan ini juga menunjukkan karakteristik yang khas.
“Peredaran narkoba dari wilayah Amerika Selatan, khususnya Brasil dan Mexico, dan sering kali melibatkan kokain dan methaphetamine (sabu),” lanjutnya.
Respons BNN dan Tantangan Global
Menghadapi ancaman yang multidimensi dan bersifat transnasional ini, BNN mengaku terus aktif membongkar sindikat narkoba dengan berbagai modus operandi. Fokus pengawasan banyak tertuju pada jalur laut, yang kerap dimanfaatkan untuk menyelundupkan barang haram dalam skala besar ke dalam negeri.
Upaya penegakan hukum ini dilakukan dalam situasi global yang dinilai tidak menentu. Suyudi mencontohkan gejolak yang terjadi di Meksiko pasca-tewasnya gembong narkoba “El Mencho” pada Minggu (22/2), yang memicu konflik berdarah antara kartel dan militer hingga menewaskan puluhan orang. Insiden semacam itu, menurut analisis BNN, berpotensi menggesar rute dan pola perdagangan narkoba internasional, yang pada akhirnya juga dapat berdampak pada Indonesia.
Artikel Terkait
Wagub Banten Turun Langsung Pantau Keamanan Ramadan 2026
Sidak Pasar Badak Pandeglang Temukan Dua Produk Mengandung Rhodamin B dan Formalin
DPRD Sulut Sahkan Tiga Ranperda Strategis, Termasuk RTRW 2025-2044
BPJN Lampung Genjot Perbaikan Jalan Lintas Sumatera Jelang Mudik Lebaran 2026