IHSG Turun 0,44% di Akhir Februari 2026, Nilai Transaksi Justru Melonjak 25%

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 01:50 WIB
IHSG Turun 0,44% di Akhir Februari 2026, Nilai Transaksi Justru Melonjak 25%

PARADAPOS.COM - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada pekan penutupan Februari 2026, meski aktivitas transaksi menunjukkan dinamika yang beragam. Dalam periode 23 hingga 27 Februari, IHSG tercatat turun 0,44% ke level 8.235,48. Sementara itu, nilai transaksi harian justru melonjak signifikan, menunjukkan minat yang tetap tinggi di tengah tekanan harga.

Tekanan pada Indeks dan Kapitalisasi Pasar

Pelemahan IHSG sebesar 0,44% dari posisi pekan sebelumnya di 8.271,76 turut berdampak pada nilai kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Kapitalisasi pasar tercatat menyusut 1,03% menjadi Rp14.787 triliun, mengindikasikan adanya pelepasan aset atau koreksi harga pada sejumlah saham-saham besar.

Dinamika Aktivitas Perdagangan

Meski indeks tertekan, geliat di pasar justru tampak dari sisi nilai transaksi. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) BEI mengalami peningkatan yang cukup tajam.

"Peningkatan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI, yaitu sebesar 25,35% menjadi Rp29,52 triliun, dari Rp23,89 triliun pada pekan sebelumnya," jelas Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad, Sabtu (28/2/2026).

Di sisi lain, frekuensi transaksi harian justru berkurang 3,72% menjadi 2,95 juta kali. Namun, volume perdagangan dalam satuan lembar saham meningkat 8,55% menjadi 51,02 miliar lembar. Pola ini mengisyaratkan bahwa transaksi yang terjadi mungkin didominasi oleh lot-lot besar, meski jumlah transaksinya sedikit berkurang.

Arus Modal Asing dan Pasar Obligasi

Salah satu faktor yang kerap diperhatikan pasar adalah pergerakan investor asing. Pada hari Jumat (27/2) saja, mereka mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp694,2 miliar. Secara akumulatif sepanjang tahun 2026, posisi jual bersih investor asing telah mencapai Rp9,51 triliun, memberikan tekanan likuiditas yang konsisten.

Di luar pasar saham, pasar obligasi dan sukuk menunjukkan aktivitas pencatatan yang stabil. Hingga akhir Februari 2026, BEI telah mencatat 30 emisi dari 21 emiten dengan total nilai Rp28,71 triliun. Secara keseluruhan, instrumen pendapatan tetap yang tercatat di BEI mencapai 677 emisi dengan nilai outstanding yang signifikan, ditambah dengan ratusan seri Surat Berharga Negara dan beberapa Efek Beragun Aset.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar