Pasar Ponsel Pintar Global Diproyeksi Anjlok 12%, Harga Naik ke Rekor Tertinggi

- Minggu, 01 Maret 2026 | 00:50 WIB
Pasar Ponsel Pintar Global Diproyeksi Anjlok 12%, Harga Naik ke Rekor Tertinggi

PARADAPOS.COM - Pasar ponsel pintar global diproyeksikan mengalami kontraksi paling tajam dalam lebih dari sepuluh tahun terakhir, didorong oleh kelangkaan komponen memori yang berkepanjangan. Dua firma riset ternama, International Data Corporation (IDC) dan Counterpoint Research, secara terpisah memprediksi penurunan pengiriman perangkat sekitar 12-13 persen sepanjang tahun ini. Kondisi ini tidak hanya akan mengurangi volume penjualan, tetapi juga mendorong kenaikan harga rata-rata perangkat ke level rekor, yang berpotensi mengubah struktur pasar secara permanen.

Dampak Struktural dan Konsolidasi Pasar

Analisis IDC menunjukkan bahwa krisis ini bukan sekadar fluktuasi siklus biasa. Firma tersebut mencatat, pengiriman ponsel pintar global diperkirakan anjlok dari 1,26 miliar unit pada 2025 menjadi sekitar 1,12 miliar unit tahun ini. Kenaikan harga komponen memori diproyeksikan mendongkrak harga jual rata-rata ponsel pintar hingga 14 persen, menembus level 523 dolar AS. Imbasnya, lanskap kompetisi diperkirakan akan mengalami konsolidasi signifikan.

Senior Research Director IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, Nabila Popal, memberikan penilaian yang tegas mengenai transformasi yang sedang terjadi.

"Krisis memori ini tidak hanya akan menyebabkan penurunan sementara; hal ini menandai penataan ulang struktural seluruh pasar, yang secara mendasar akan membentuk kembali total pasar yang dapat digarap dalam jangka panjang, lanskap vendor, serta komposisi produk," jelasnya.

Popal menambahkan, vendor-vendor kecil dan pemain di segmen harga rendah akan paling terpukul. Mereka menghadapi tekanan ganda dari pasokan yang terbatas dan melemahnya permintaan di tengah kenaikan harga. Bahkan, kategori ponsel pintar dengan harga di bawah 100 dolar AS disebutkan berisiko hilang dari pasar karena menjadi tidak ekonomis untuk diproduksi.

Proyeksi Regional dan Timeline Pemulihan

Dampak geografis dari gangguan pasokan ini juga tidak merata. Kawasan Timur Tengah dan Afrika diperkirakan akan mengalami penurunan pengiriman paling parah, yakni lebih dari 20 persen. Sementara itu, pasar China dan Asia Pasifik (di luar Jepang) masing-masing diproyeksi menyusut 10,5 persen dan 13,1 persen. Menurut proyeksi IDC, stabilitas harga untuk komponen memori baru diharapkan mulai terlihat pada pertengahan 2027, yang menandakan bahwa tekanan ini akan berlangsung dalam jangka menengah.

Pandangan serupa mengenai durasi krisis disampaikan oleh analis dari Counterpoint Research. Principal Analyst Counterpoint, Yang Wang, menggarisbawahi bahwa dampak kelangkaan ini akan terus terasa hingga paruh kedua 2027, mengingat proses ekspansi kapasitas produksi memori membutuhkan waktu yang tidak singkat.

"Ia juga mencatat kenaikan harga 10–20 persen telah terjadi pada sejumlah portofolio vendor Android sejak Januari 2026," ungkapnya.

Pergeseran Segmen dan Peringatan dari Industri

Meski secara umum pasar tertekan, Counterpoint menilai segmen ponsel premium menunjukkan ketahanan yang lebih baik. Sebaliknya, segmen ponsel di bawah 200 dolar AS diprediksi merosot hingga 20 persen. Ketidakstabilan harga perangkat baru ini berpotensi memicu pertumbuhan di pasar ponsel bekas, sebagai alternatif bagi konsumen yang lebih hemat.

Peringatan mengenai gejolak ini sebelumnya telah disuarakan oleh pelaku industri. CEO dan pendiri Nothing, Carl Pei, mengingatkan bahwa produsen ponsel dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga jual hingga 30 persen atau menurunkan spesifikasi perangkat. Model bisnis yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga murah, menurutnya, akan sulit dipertahankan dalam kondisi saat ini.

Dengan demikian, industri ponsel pintar global tengah berada di persimpangan jalan. Krisis pasokan memori yang berlarut-larut ini diprediksi tidak hanya menggerus angka penjualan tahunan, tetapi juga mengkristalkan perubahan permanen dalam strategi produk, hierarki vendor, dan perilaku konsumen di tahun-tahun mendatang.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar