Kisah Abdurrahman bin Auf: Kekayaan yang Dikhawatirkan, Sedekah yang Diberikan

- Kamis, 05 Maret 2026 | 20:00 WIB
Kisah Abdurrahman bin Auf: Kekayaan yang Dikhawatirkan, Sedekah yang Diberikan

PARADAPOS.COM - Sebuah kisah keteladanan dari sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdurrahman bin Auf, mengetengahkan pelajaran mendalam tentang relasi antara kekayaan, empati, dan keimanan. Ustaz Das'ad Latif mengungkapkan bagaimana seorang saudagar yang sangat kaya justru diliputi kekhawatiran bahwa harta duniawi dapat menjadi penghalang di akhirat. Kisah ini bermula dari hijrahnya dari Makkah ke Madinah, di mana dengan tekad dan kerja kerasnya memulai usaha dari nol hingga sukses, namun kesuksesan itu tidak pernah mengikis rasa syukur dan kepedulian sosialnya.

Dari Nol di Pasar Madinah Menjadi Saudagar Terkemuka

Sesampainya di Madinah sebagai bagian dari kaum Muhajirin, Abdurrahman bin Auf disambut dengan tawaran bantuan yang tulus dari kaum Anshar. Mereka bersedia berbagi harta dan tempat tinggal. Namun, dengan sikap mandiri yang penuh harga diri, ia memilih untuk tidak membebani mereka. Ia hanya meminta satu hal: ditunjukkan jalan menuju pasar. Dari sanalah, dengan modal kejujuran dan kegigihan, ia membangun bisnisnya perlahan-lahan. Usaha kecilnya itu lama-kelamaan berkembang pesat, mengantarkannya menjadi salah satu pedagang paling sukses dan dihormati di Madinah.

Kekayaan yang Tidak Membutakan Hati

Kemakmuran materi sama sekali tidak membuat Abdurrahman bin Auf lupa diri. Suatu momen yang menggugah hati terjadi ketika ia hendak menyantap hidangan lezat. Alih-alih menikmatinya, ia justru menangis. Pikirannya melayang kepada Nabi Muhammad SAW dan perjuangan berat yang sering Beliau alami, termasuk menahan lapar berjam-jam karena ketiadaan makanan. Rasa empati yang mendalam ini, ditambah dengan kehati-hatiannya terhadap fitnah harta, menjadi pendorong utama bagi tindakan sosialnya yang luar biasa.

Sedekah Besar sebagai Bentuk Kekhawatiran dan Keimanan

Dorongan hati itu akhirnya diwujudkan dalam aksi nyata yang menggemparkan. Abdurrahman bin Auf menyedekahkan hartanya dalam skala yang sangat besar—sekitar 700 ekor unta beserta seluruh muatannya—untuk dibagikan kepada seluruh penduduk Madinah. Tindakan ini bukan sekadar kedermawanan biasa, melainkan sebuah pernyataan iman yang tegas. Saat ditanya alasan di balik pemberian yang fantastis tersebut, jawabannya mencerminkan kedalaman spiritual dan ketakwaannya.

"Saya tidak mau kemewahan dunia ini menguasai hati saya sehingga saya melupakan kehidupan akhirat. Saya tidak mau semua harta inilah yang Allah kasih sehingga saya tidak punya apa-apa nanti di akhirat," ungkapnya sebagaimana diceritakan kembali oleh Ustaz Das'ad Latif.

Refleksi Abadi: Harta sebagai Titipan untuk Akhirat

Bagi Abdurrahman bin Auf, sedekah yang ia berikan bukanlah sekadar pemberian, melainkan sebuah mekanisme spiritual untuk "memindahkan" atau "menitipkan" hartanya ke alam yang kekal. Ia memandang kemewahan dunia bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai ujian dan sekaligus sarana untuk memperbanyak bekal di akhirat. Kisah hidupnya yang penuh inspirasi ini terus mengajak setiap Muslim untuk berefleksi: agar keberlimpahan yang kita miliki tidak membuat lalai, tetapi justru menjadi alat untuk memperluas manfaat bagi sesama dan meraih keberkahan sejati dalam kehidupan yang abadi.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar