PARADAPOS.COM - Di balik manisnya dodol Betawi, tersimpan proses produksi yang panjang dan mengandalkan semangat gotong royong. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyoroti hal ini usai mengunjungi toko Dodol Nyak Mai di Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang telah beroperasi selama 38 tahun. Kunjungannya bukan sekadar seremonial, tetapi juga menjadi momen untuk menyaksikan langsung ketelatenan pembuatan panganan tradisional tersebut, yang membutuhkan pengadukan manual hingga sepuluh jam.
Proses Panjang yang Mengandalkan Kebersamaan
Membuat dodol bukan pekerjaan singkat. Juwani (65), pemilik generasi kedua Dodol Nyak Mai, mengungkapkan bahwa prosesnya melibatkan banyak tenaga. Bahan-bahan sederhana seperti gula merah, santan, tepung, dan garam diolah tanpa air atau pengawet, kemudian diaduk secara manual dalam wajan besar.
"Kalau yang gulung bertiga, kalau yang ngaduk berenam, sepuluh lah sama yang masak," tutur Juwani menjelaskan pembagian tugas di tempat usahanya.
Proses pengadukan yang krusial ini biasanya berlangsung sekitar sepuluh jam nonstop, dilakukan secara bergiliran oleh tiga hingga empat orang. Ritme kerja kolektif inilah yang menarik perhatian Gubernur Pramono Anung.
Gotong Royong sebagai Jiwa Produksi
Bagi Pramono, apa yang disaksikannya di kedai sederhana itu lebih dari sekadar pembuatan makanan; itu adalah perwujudan nyata nilai kebersamaan. Ia bahkan turut mencoba mengaduk adonan dodol, diikuti oleh mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Wibowo, yang hadir dalam kapasitasnya sebagai Ketua Dewan Adat Majelis Kaum Betawi.
"Saya terkesan sekali karena dodol ini bagi warga Betawi sebenarnya bagian dari konsep gotong royong," ujar Pramono.
"Inilah kekhasannya, keunggulannya, kelebihannya dodol, yaitu yang kita sebut dengan gotong royong," sambungnya menegaskan.
Kunjungan tersebut membuatnya bersyukur dapat bertemu langsung dengan pelaku usaha yang mempertahankan tradisi turun-temurun. "Secara pribadi saya bersyukur hari ini bisa bertemu langsung dengan Mpok Juwani dan Bang Udin, yang sekarang menjadi generasi kedua dari Dodol Nyak Mai," ungkapnya.
Harapan untuk Modernisasi Tanpa Hilangkan Tradisi
Meski mengagumi proses tradisional, Pramono mendukung keinginan Juwani untuk melakukan pembaruan dalam produksi. Ia menekankan pentingnya modernisasi yang tidak mengikis akar budaya. Komitmen ini rencananya akan ditindaklanjuti bersama Dinas UMKM DKI Jakarta.
"Harapannya dilakukan modernisasi, tetapi tidak menghilangkan tradisi yang ada di tempat ini. Tadi ketika Ibu menyampaikan ingin dimodernisasi dan dibantu, mudah-mudahan bisa dilakukan. Namun sekali lagi, jangan sampai yang lama ini dihilangkan," jelas Pramono.
"Mengenai peralatan yang disampaikan Bu Juwani, tentunya kami akan mendukung. Jika memang perlu modernisasi atau pemberdayaan UMKM lainnya, nanti saya minta Kepala Dinas UMKM, Bu Ratu, untuk mempelajari dan menyiapkannya," tambahnya.
Daya Tarik Dodol dan Dukungan Pemerintah
Selain proses produksi, perhatian juga diberikan pada pengemasan produk. Gubernur berharap tampilan dodol dapat lebih menarik untuk meningkatkan daya saingnya sebagai buah tangan khas Jakarta. Dukungan konkret pun diwujudkan dengan rencana pemesanan untuk acara di Balai Kota.
"Saya merasa kuliner tradisional seperti ini perlu kita perbaiki, terutama dari sisi packaging agar lebih menarik. Sehingga siapa pun yang berkunjung ke Jakarta bisa mencoba dodol Nyak Mai. Nanti saya juga minta untuk acara-acara di Balai Kota bisa pesan di tempat ini," kata Pramono.
Dodol Nyak Mai sendiri menawarkan dua varian, original dan wijen, dengan harga Rp 115 ribu per kilogram. Harga biasanya mengalami kenaikan menjadi Rp 120 ribu per kilogram saat menjelang Idul Fitri. Menurut Juwani, peminat produknya tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari berbagai daerah.
"Paling banyak dari Bandung," ucapnya, mengisyaratkan besarnya minat terhadap cita rasa dodol Betawi yang autentik ini.
Artikel Terkait
Kremlin Tegaskan Belum Terima Permintaan Bantuan Militer dari Iran
Ibu Rafi Ikhsan Bantah Tuduhan Jual Barang Peninggalan Vina di Polda
Pertamina Proyeksikan Konsumsi Bensin Naik 12% Saat Mudik Lebaran 2026
BPK Tegaskan Kerugian Negara Harus Nyata dan Pasti, Bukan Sekadar Potensi