Harga Minyak Tembus US$100, IHSG Diproyeksi Tertekan Awal Pekan

- Senin, 09 Maret 2026 | 01:25 WIB
Harga Minyak Tembus US$100, IHSG Diproyeksi Tertekan Awal Pekan

PARADAPOS.COM - Pasar saham Indonesia diproyeksikan melanjutkan tekanan pada awal pekan ini, didorong oleh sentimen negatif dari melonjaknya harga minyak dunia yang menembus level psikologis 100 dolar AS per barel. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, memperkirakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan bergerak melemah pada perdagangan Senin (9/3), dengan level kunci support dan resistance di kisaran 7.460 hingga 7.860.

Eskalasi Konflik Picu Gejolak Harga Energi

Lonjakan harga minyak mentah global tidak terlepas dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Serangkaian serangan yang dilaporkan menargetkan fasilitas energi Iran, termasuk depot penyimpanan minyak di sekitar Teheran, memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan. Iran diketahui telah membalas dengan serangan rudal dan drone, memperlebar lingkup konflik.

Kondisi ini meningkatkan ketidakpastian di pasar komoditas, mengingat kawasan tersebut merupakan jalur distribusi energi vital dunia. Analis memperingatkan bahwa gangguan pada Selat Hormuz, yang dilalui seperlima perdagangan minyak global, berpotensi mendorong harga lebih tinggi lagi.

Nico menjelaskan, "Kami menilai eskalasi serangan terhadap fasilitas energi Iran berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia karena meningkatkan risiko gangguan pasokan, terutama jika konflik mempengaruhi jalur pelayaran di Selat Hormuz."

Dampak Beruntun ke Perekonomian Domestik

Gejolak di pasar minyak ini tidak hanya mempengaruhi sentimen pasar saham, tetapi juga mulai menyentuh ranah kebijakan fiskal dalam negeri. Pemerintah disebut telah membuka opsi penyesuaian, mulai dari merevisi anggaran Program Makan Bergizi Gratis hingga kemungkinan menaikkan harga BBM bersubsidi jika tekanan pada APBN 2026 membesar.

Tanpa langkah antisipasi, defisit APBN berisiko melebar. Meski efisiensi belanja dan penundaan proyek infrastruktur dapat menjadi penyeimbang, langkah tersebut berpotensi memperlambat aktivitas ekonomi di sektor konstruksi, menciptakan dilema kebijakan yang tidak sederhana.

Mengenai skenario kenaikan BBM, Nico mengungkapkan, "Apabila pada akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dampaknya bisa memicu kenaikan inflasi, meningkatkan biaya transportasi dan logistik, serta menekan daya beli masyarakat."

Tekanan dari Pasar Global dan Pergerakan Indeks

Sentimen risk-off dari pasar global turut membayangi. Pada penutupan perdagangan Jumat pekan lalu, bursa saham AS di Wall Street tercatat kompak melemah, dengan indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq mengalami penurunan signifikan. Pelemahan ini turut mempengaruhi psikologi investor di pasar berkembang, termasuk Indonesia.

Refleksinya terlihat pada kinerja IHSG di sesi terakhir. Indeks ditutup melemah 1,62 persen ke posisi 7.585,68, diikuti oleh penurunan serupa pada indeks LQ45. Pergerakan pagi ini akan sangat dipantau untuk melihat sejauh mana tekanan eksternal dan internal diserap oleh pasar.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar