Kementerian UMKM Peringatkan Dampak Gejolak Timur Tengah pada Harga Produk UMKM

- Selasa, 10 Maret 2026 | 15:00 WIB
Kementerian UMKM Peringatkan Dampak Gejolak Timur Tengah pada Harga Produk UMKM

PARADAPOS.COM - Kementerian UMKM memperingatkan bahwa eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Amerika Serikat, berpotensi memicu gelombang kenaikan harga produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di dalam negeri. Pemicu utamanya adalah lonjakan harga minyak mentah dunia yang telah melampaui asumsi pemerintah, yang berisiko mendorong inflasi melalui kenaikan biaya transportasi dan bahan pokok.

Dampak Berantai dari Lonjakan Harga Minyak

Deputi Bidang Usaha Kecil Kementerian UMKM, Temmy Satya Permana, menjelaskan situasi yang tengah berkembang. Harga minyak yang kini menyentuh level 117 dolar AS per barel telah jauh melampaui asumsi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026, yang hanya dipatok di angka 70 dolar AS. Kesenjangan yang lebar ini menciptakan tekanan fiskal yang signifikan bagi negara.

Temmy memaparkan skenario dampak berantai yang mungkin terjadi. Kenaikan harga komoditas energi global, jika berlangsung terus-menerus, dapat memaksa pemerintah meninjau ulang kebijakan subsidi energi. Penyesuaian semacam itu akan berimbas langsung pada harga-harga barang kebutuhan sehari-hari.

"Kenaikan harga minyak ini kemungkinan besar akan mendorong penyesuaian subsidi energi dan berdampak pada harga barang pokok. Jika harga barang pokok naik, maka harga pokok penjualan UMKM juga akan ikut naik," jelasnya dalam sebuah temu media di Jakarta, Selasa.

Sektor Jasa dan Transportasi Paling Rentan

Dari seluruh lapisan UMKM, sektor jasa dinilai akan merasakan dampak paling langsung, terutama yang bergerak di bidang angkutan dan distribusi logistik. Keterkaitan operasionalnya yang erat dengan konsumsi bahan bakar membuat bisnis-bisnis ini sangat sensitif terhadap fluktuasi harga di pom bensin.

Logikanya cukup sederhana namun berdampak luas. Kenaikan harga bahan bakar akan langsung membebani biaya operasional pengangkutan. Pada gilirannya, biaya distribusi yang membengkak ini akan dibebankan kepada harga barang yang diangkut, mendorong inflasi harga bahan pokok di tingkat konsumen akhir.

Komitmen Pemerintah dan Pentingnya Ketahanan Pasar Domestik

Di tengah kekhawatiran tersebut, pemerintah melalui Kementerian UMKM menyatakan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga. Temmy menegaskan bahwa setidaknya untuk saat ini, belum ada rencana untuk menaikkan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat. Komitmen ini diharapkan dapat memberikan ruang bernapas bagi pelaku usaha.

Namun, situasi global yang tidak menentu ini, menurutnya, harus menjadi alarm bagi para pelaku UMKM. Momen ini mengingatkan akan pentingnya memperkuat fondasi pasar dalam negeri dan membangun ketahanan usaha agar tidak terlalu terombang-ambing oleh gejolak ekonomi internasional yang sulit diprediksi.

Evaluasi Kebijakan dan Risiko Anggaran

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada keputusan untuk mengubah harga BBM bersubsidi meskipun harga minyak dunia meroket. Pemerintah masih melakukan kajian mendalam sebelum mengambil langkah kebijakan.

"Sampai sekarang belum ada kebijakan untuk mengubah subsidi BBM, dalam pengertian menaikkan harga BBM," tegas Purbaya kepada awak media di Jakarta, Senin (9/3).

Kajian yang dilakukan pemerintah bukan tanpa alasan. Analisis sensitivitas APBN 2026 mengungkap kerentanan anggaran negara. Setiap kenaikan satu dolar AS pada harga minyak mentah Indonesia (ICP) berpotensi memperlebar defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun. Dengan asumsi awal ICP di level 70 dolar AS dan realitas harga yang kini jauh di atasnya, tekanan terhadap keuangan negara menjadi sangat nyata dan memerlukan kehati-hatian dalam pengambilan keputusan.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar