PARADAPOS.COM - Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren penurunannya pada perdagangan Rabu, 11 Maret 2026, merespons langkah antisipatif lembaga energi global. Data real-time menunjukkan kedua patokan minyak utama, Brent dan WTI, terkoreksi dari level pembukaannya, didorong oleh rencana pelepasan cadangan minyak darurat untuk meredam gejolak harga.
(Ilustrasi. Foto: Dok ICDX)Pergerakan Harga di Zona Merah
Berdasarkan pantauan terhadap data pasar komoditas, minyak mentah Brent untuk kontrak Mei tercatat di level USD 89,23 per barel, turun dari posisi pembukaan di USD 91,09 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April juga melemah ke posisi US85,32 per barel setelah sempat dibuka lebih tinggi di US87,29 per barel. Pergerakan hari ini menunjukkan volatilitas yang cukup signifikan, dengan WTI bahkan sempat menyentuh level terendah harian di sekitar US81,82 per barel.
Langkah Stabilisasi IEA dan Dampaknya
Koreksi harga yang terjadi tidak terlepas dari respons pasar terhadap keputusan strategis International Energy Agency (IEA). Lembaga yang berbasis di Paris tersebut berencana melepas cadangan minyak darurat dalam volume besar, sebuah langkah yang bertujuan menstabilkan pasokan energi global.
Langkah ini dinilai sebagai upaya pre-emptif meredam kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan, terutama yang bersumber dari ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang sempat mendongkrak harga minyak mendekati level psikologis USD 100 per barel.
Pasar Tetap Waspada di Tengah Ketidakpastian
Meski intervensi IEA berhasil meredam sentimen bullish untuk sementara, suasana pasar diperkirakan akan tetap rentan terhadap gejolak. Analis di lantai perdagangan memperkirakan volatilitas tinggi masih akan berlanjut seiring dengan dua faktor kunci yang ditunggu pelaku pasar.
Pertama, rilis data inflasi (CPI) Amerika Serikat yang akan memberikan sinyal mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Kedua, dan yang paling sensitif, adalah perkembangan situasi geopolitik terbaru yang dapat mengubah sentimen pasar secara cepat dan drastis. Kombinasi antara data ekonomi dan dinamika politik ini membuat pergerakan harga minyak ke depan masih sulit diprediksi dengan pasti.
Artikel Terkait
Prabowo: Krisis Global Momentum Percepat Swasembada dan Bangun PLTS 100 GW
OJK Rancang Peta Jalan Integralitas untuk Reformasi Integritas Pasar Modal
KAI Commuter Rencanakan Ambil Alih Operasi Tiga Kereta Bandara pada 2026
Roy Suryo Tegaskan Permintaan Maaf RHS di Video adalah Sikap Pribadi