Prabowo Panggil Hasan Nasbi ke Istana, Agenda Pertemuan Belum Diketahui

- Kamis, 12 Maret 2026 | 09:25 WIB
Prabowo Panggil Hasan Nasbi ke Istana, Agenda Pertemuan Belum Diketahui

PARADAPOS.COM - Presiden Prabowo Subianto memanggil mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan, Hasan Nasbi, ke Istana Kepresidenan Jakarta pada Kamis sore. Pertemuan ini menimbulkan spekulasi mengingat posisi terakhir Hasan sebagai Komisaris PT Pertamina dan kehadirannya dalam rapat internal pemerintah sebelumnya. Dalam keterangan singkatnya di depan wartawan, Hasan sendiri mengaku belum mengetahui agenda spesifik dari pemanggilan mendadak tersebut.

Pemanggilan Mendadak Tanpa Agenda Jelas

Sore itu, sekitar pukul 15.00 WIB, Hasan Nasbi tiba di kompleks Istana. Ia mengungkapkan bahwa undangan untuk menghadap Presiden diterimanya hanya beberapa jam sebelumnya, yakni sekitar pukul 13.30 WIB, melalui pesan WhatsApp dari pihak protokol kepresidenan. Hal ini menunjukkan sifat pertemuan yang cukup mendesak atau informal.

Hasan tampak lugas mengakui bahwa ia sama sekali belum mendapat penjelasan mengenai topik yang akan dibahas atau bahkan kapasitas apa yang ia emban dalam pertemuan itu. Sikapnya yang terbuka namun berhati-hati ini mencerminkan dinamika komunikasi dalam lingkaran kekuasaan, di mana sebuah panggilan bisa datang tiba-tiba.

"Tadi 13.30 WIB di-WA (WhatsApp) oleh Protokol. Ada agenda bersama Presiden katanya. Tapi saya belum tahu agendanya. Terus terang benar-benar belum tahu," tuturnya kepada awak media yang menunggu.

Riwayat Kehadiran dalam Forum Terbatas

Ini bukan kali pertama Hasan Nasbi diundang ke dalam forum terbatas pemerintahan Prabowo. Sebelumnya, pada Senin malam (9/3), ia juga menghadiri rapat bersama Presiden dan sejumlah menteri di Hambalang, Jawa Barat. Kehadirannya dalam forum tertutup itu sempat menarik perhatian publik, memunculkan pertanyaan tentang peran spesifiknya.

Menurut penuturannya, dalam pertemuan di Hambalang itu, posisinya lebih sebagai pendengar. Rapat yang berlangsung sekitar tiga jam dan diselingi buka puasa bersama itu membahas berbagai isu strategis, termasuk situasi geopolitik global dan langkah antisipasi Indonesia agar tidak terimbas krisis.

"Topik-topik kondisi terkini saja. Kan kita ada, lagi di luar lagi ada perang, terus bagaimana Indonesia menyikapinya supaya kita tidak terjebak ke dalam krisis, bagaimana solusinya, macam-macam lah. Tapi kan yang bicara menteri-menteri ya. Saya dengarkan saja. Saya kan tidak ikut ngomong, saya dengarkan saja," jelasnya mengenai dinamika rapat waktu itu.

Tidak Ada Sinyal Penugasan atau Reshuffle Kabinet

Menanggapi berbagai spekulasi yang beredar, termasuk kemungkinan penugasan baru di pemerintahan atau isu perombakan kabinet, Hasan Nasbi dengan tegas menyatakan bahwa belum ada pembicaraan sama sekali mengenai hal tersebut. Ia tampak ingin meredam asumsi-asumsi yang berkembang dari kehadirannya di Istana.

Ketika ditanya kemungkinan diminta kembali membantu pemerintahan, ia memilih untuk tidak berkomentar lebih jauh, menunjukkan sikap profesional dan tidak ingin mendahului keputusan politik apa pun.

"Belum bisa komentar. Kita orang belum ada ini, belum ada pembicaraan soal itu. Sabar ya. Nanti lagi ya. Terima kasih," pungkasnya sebelum meninggalkan lokasi.

Kehadiran Menteri ESDM

Selain Hasan Nasbi, pantauan di lokasi juga mencatat kedatangan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Kehadiran menteri yang membidangi sektor energi ini, bersamaan dengan mantan juru bicara kepresidenan yang kini duduk di komisaris Pertamina, memberikan nuansa tersendiri. Meski belum dapat dikonfirmasi kaitannya, kehadiran kedua figur ini dalam waktu berdekatan setidaknya memberi gambaran tentang lingkaran pembicaraan yang mungkin menyentuh isu-isu strategis nasional, termasuk sektor energi. Situasi ini tetap memerlukan konfirmasi dan kejelasan lebih lanjut dari pihak resmi Istana.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar