Umat Muslim Indonesia Bersiap Sambut Idulfitri 1447 H dengan Salat dan Amalan Sunah

- Jumat, 20 Maret 2026 | 20:25 WIB
Umat Muslim Indonesia Bersiap Sambut Idulfitri 1447 H dengan Salat dan Amalan Sunah

PARADAPOS.COM - Umat Islam di Indonesia bersiap menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, yang diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Momen kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan ini dirayakan dengan penuh suka cita dan rangkaian ibadah sunah. Salah satu ibadah utama yang hanya dilaksanakan setahun sekali adalah salat Idulfitri, yang hukumnya sangat dianjurkan (sunah muakkadah) dan dilaksanakan secara berjamaah pada pagi hari 1 Syawal.

Salat Idulfitri: Hukum dan Pelaksanaan

Salat Idulfitri menempati posisi istimewa dalam syariat. Para ulama bahkan berbeda pendapat mengenai tingkat kesunnahannya, dengan sebagian menganggapnya sebagai fardhu kifayah, yaitu kewajiban yang dibebankan kepada komunitas Muslim secara kolektif. Ibadah ini dianjurkan bagi seluruh muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

Pelaksanaannya secara berjamaah lebih utama. Tradisi menunjukkan, jika masjid tidak cukup menampung jamaah, salat Id dapat dilaksanakan di lapangan terbuka. Hal ini mencerminkan semangat inklusivitas dan kebersamaan dalam menyambut hari kemenangan.

Rangkaian Amalan Sunah Menyambut Lebaran

Selain salat Id, terdapat sejumlah amalan sunah yang diajarkan untuk menyempurnakan kebahagiaan dan keberkahan di hari raya. Amalan-amalan ini, meski tidak wajib, mengandung hikmah dan menjadi pembeda dalam merayakan Idulfitri dibanding hari-hari biasa.

Persiapan Sebelum Salat

Persiapan dimulai sejak malam hari. Umat Muslim disunahkan untuk mandi, yang waktunya bisa dimulai sejak tengah malam hingga sebelum salat Id. Anjuran ini berlaku untuk semua, termasuk mereka yang sedang haid atau nifas, sebagai simbol penyucian lahir dan batin.

Memperbanyak bacaan takbir juga menjadi ciri khas malam dan pagi Idulfitri. Gema takbir yang dikumandangkan sejak matahari terbenam di malam 1 Syawal menandai berakhirnya Ramadan dan tibanya hari kemenangan.

Sebelum berangkat salat, dianjurkan untuk makan terlebih dahulu, sekadar untuk membatalkan puasa. Anjuran ini berbeda dengan Iduladha dan mengandung hikmah tersendiri. Seorang ahli fikih kontemporer mengingatkan, "Meninggalkan anjuran ini hukumnya makruh."

Etika dan Adab di Hari Raya

Saat berangkat menuju tempat salat, terdapat adab menarik yaitu mengambil rute pergi dan pulang yang berbeda. Disarankan untuk memilih jalan yang lebih panjang saat pergi, sebagai bentuk memperbanyak langkah dalam rangka ibadah dan syiar.

Berhias dengan mengenakan pakaian terbaik, memotong kuku, dan memakai wewangian juga merupakan sunah. Ini bukan sekadar penampilan lahir, melainkan ekspresi lahiriah dari kebahagiaan batin menyambut hari yang diberkahi.

Puncak dari suasana kegembiraan itu terwujud dalam tradisi saling mengucapkan selamat. Ucapan seperti "Taqabbalallahu minna wa minkum" (Semoga Allah menerima amal kami dan kalian) atau "Mohon maaf lahir dan batin" menguatkan ikatan persaudaraan dan menutup lembaran lama dengan hati yang bersih.

Dengan memahami dan mengamalkan rangkaian sunah ini, perayaan Idulfitri tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga transformasi spiritual yang meninggalkan bekas mendalam dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar