PARADAPOS.COM - Lebaran bukan sekadar momen bersilaturahmi dan saling bermaafan. Menurut perspektif psikologi, tradisi memaafkan saat Idulfitri memiliki dampak mendalam bagi kesehatan mental, berfungsi sebagai proses pelepasan emosional yang dapat memutus siklus pikiran negatif dan meningkatkan kesejahteraan psikologis seseorang. Hal ini dijelaskan oleh Miftakhul Jannah, seorang dosen psikologi, yang menekankan bahwa memaafkan adalah sebuah transformasi internal, bukan hanya formalitas sosial.
Memaafkan Sebagai Pelepasan Emosional
Dalam dunia psikologi, memaafkan atau forgiveness dipandang sebagai sebuah perjalanan emosional yang kompleks. Miftakhul Jannah, yang mengajar di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya, menjelaskan bahwa esensi memaafkan terletak pada kemampuannya mengubah rasa sakit menjadi ketenangan yang lebih adaptif. Suasana spiritual yang mengiringi Hari Raya menciptakan ruang refleksi yang unik, di mana empati lebih mudah tumbuh untuk memperkuat atau memulihkan hubungan yang sempat renggang.
Dia merujuk pada pemikiran para ahli seperti Robert Enright dan Everett Worthington, yang melihat tradisi saling memaafkan ini sebagai bentuk emotional release—pelepasan beban emosi yang mungkin telah lama terpendam.
Dampak Langsung pada Kesehatan Mental
Manfaat dari tindakan memaafkan ternyata sangat konkret bagi anatomi kesehatan mental. Saat seseorang memilih untuk melepaskan dendam, terjadi pergeseran cara pandang terhadap pengalaman pahit di masa lalu. Proses ini secara efektif menghentikan rumination, yaitu kebiasaan mental yang melelahkan untuk terus memutar ulang memori negatif.
Miftakhul Jannah memaparkan konsekuensi dari pola pikir yang berlarut-larut tersebut.
“Jika dibiarkan, pola pikir rumination dapat memicu stres kronis dan beban emosional yang berat. Sebaliknya, individu yang mampu memaafkan cenderung memiliki tingkat stres yang lebih rendah, emosi yang lebih stabil, serta kepuasan hidup yang jauh lebih tinggi,” jelasnya.
Dia menambahkan, menyimpan amarah dalam jangka panjang ibarat memikul beban berat yang tak kasatmata. Emosi negatif yang dipendam terus-menerus berisiko memicu kelelahan mental hingga gejala-gejala yang lebih serius.
Sebuah Strategi Mengatasi Tekanan
Dari kacamata keilmuan, memaafkan dikategorikan sebagai emotion-focused coping. Ini merupakan strategi adaptif dimana seseorang mengambil kendali dengan mengatur respons emosionalnya sendiri terhadap peristiwa yang menyakitkan, alih-alih terjebak dalam situasi tersebut.
Meski terdengar sederhana, Miftakhul Jannah mengakui bahwa jalan menuju memaafkan sering kali terjal. Kedalaman luka dan sejarah hubungan setiap orang bersifat sangat personal. Namun, dia menegaskan sebuah poin krusial.
Memaafkan Bukan Membenarkan
Penting untuk dipahami bahwa memaafkan sama sekali bukan tindakan membenarkan kesalahan orang lain atau mengabaikan rasa sakit yang dialami. Miftakhul Jannah menekankan bahwa memaafkan lebih merupakan sebuah keputusan berani untuk tidak lagi membiarkan masa lalu mengontrol kebahagiaan dan ketentraman jiwa di masa kini dan mendatang.
Melalui pemaknaan ulang terhadap pengalaman pahit, seseorang dapat perlahan-lahan meletakkan beban dari pundaknya. Dia mengungkapkan makna terdalam dari proses ini.
“Ketika memaafkan dilakukan dengan tulus, hal ini tidak hanya merajut kembali tali silaturahmi, tetapi merupakan hadiah paling berharga bagi diri sendiri agar bisa melangkah dengan lebih ringan, tenang, dan sejahtera secara psikologis,” tuturnya.
Dengan demikian, tradisi saling memaafkan di hari raya menawarkan lebih dari sekadar rekonsiliasi sosial. Ia adalah pintu menuju penyembuhan diri, sebuah mekanisme psikologis yang kuat yang memungkinkan individu untuk bergerak maju dengan beban yang lebih ringan dan hati yang lebih lapang.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo dan Putra Berinteraksi Langsung dengan Warga di Open House Istana
Menkeu Purbaya Resmi Batasi Pengajuan Anggaran Baru K/L
Cristiano Ronaldo Ucapkan Selamat Idul Fitri, Raih Respons Luar Biasa
Khatib Shalat Id di Deli Serdang Serukan Penguatan Tiga Pilar Pasca-Ramadhan