Mentan Klaim Indonesia Jadi Rujukan Global, Peringatkan Ancaman Krisis Pangan

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 07:00 WIB
Mentan Klaim Indonesia Jadi Rujukan Global, Peringatkan Ancaman Krisis Pangan

PARADAPOS.COM - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengklaim Indonesia kini menjadi rujukan global dalam ketahanan pangan, didasari capaian swasembada yang bahkan mengantarkan negara meraih penghargaan internasional. Pernyataan itu disampaikan dalam Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Makassar, Jumat (27/3/2026), di tengah peringatannya bahwa krisis pangan tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas nasional.

Indonesia Jadi Tujuan Belajar Negara Lain

Di hadapan para pelaku usaha dan pemangku kepentingan, Amran menyampaikan bahwa keberhasilan Indonesia menarik perhatian dunia. Ia menyebut sejumlah negara maju dan berkembang telah datang untuk mempelajari kebijakan dan implementasi pertanian di tanah air.

“Banyak negara datang belajar ke Indonesia, mulai dari Jepang, Kanada, hingga Belarus. Ini bukti bahwa kita berada di jalur yang benar menuju swasembada pangan,” ungkapnya, mengutip laporan kantor berita nasional.

Peringatan di Balik Prestasi

Meski optimis dengan pencapaian yang ada, Mentan tidak menampik adanya tantangan besar di depan mata. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada impor komoditas pangan, khususnya beras, bukan hanya persoalan ekonomi semata. Dampaknya bisa merembet ke ranah politik dan kedaulatan.

"Satu juta ton impor beras bisa membawa tekanan besar dari negara pengekspor," tegas Amran, menggambarkan kerentanan yang mungkin timbul.

Filosofi Kerja Keras sebagai Fondasi

Menyoroti jalan panjang yang telah ditempuh, Amran menekankan bahwa kesuksesan di bidang pangan tidak datang secara instan. Ia menyerukan pentingnya sinergi dan kerja nyata seluruh elemen bangsa, dari pemerintah hingga petani di lapangan.

"Doa tanpa tindakan adalah nol. Sukses itu tidak gratis. Kita harus bersatu dan bekerja nyata," ajaknya dalam forum tersebut, menutup penyampaiannya dengan pesan motivasi yang tegas.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar