PARADAPOS.COM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan pernyataan duka dan kecaman atas insiden berdarah di Lebanon yang merenggut nyawa pasukan penjaga perdamaian PBB. Dalam tragedi yang diduga merupakan serangan Israel itu, tiga prajurit TNI dilaporkan gugur, salah satunya adalah seorang kader Muhammadiyah. Pernyataan ini disampaikan Haedar dalam momentum silaturahmi Idulfitri di Jakarta, Selasa (31/3/2026), seraya mengajak refleksi mendalam tentang kondisi peradaban global.
Duka dan Kecaman atas Gugurnya Prajurit Perdamaian
Dengan nada yang penuh keprihatinan, Haedar Nashir mengungkapkan kedukaan mendalam organisasi Islam yang dipimpinnya. Ia secara tegas mengutuk aksi kekerasan yang menimpa pasukan yang bertugas menjaga perdamaian di wilayah konflik tersebut. Kesedihan itu kian mendalam dengan identitas salah satu prajurit yang gugur, Praka Farizal Rhomadhon, yang ternyata merupakan kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, Yogyakarta.
“Kami menyampaikan duka yang mendalam. Kami mengutuk segala bentuk kekerasan dan penindasan,” tegas Haedar dalam tausiyahnya.
Refleksi atas Kegagalan Peradaban Modern
Lebih dari sekadar pernyataan duka, Haedar Nashir menggunakan momentum ini untuk menyoroti kegelisahannya terhadap realitas dunia. Ia melihat berbagai peristiwa kekerasan, genosida, hingga lemahnya penegakan hukum internasional sebagai bukti dari situasi global yang cenderung katastrofik atau penuh bencana. Menurut pandangannya, kondisi ini mengindikasikan bahwa cita-cita luhur peradaban modern masih jauh dari kenyataan.
“Ini menunjukkan cita-cita besar peradaban modern belum sepenuhnya tercapai. Sekecil apa pun peran kemanusiaan tetap penting untuk menjaga peradaban,” ujarnya, menekankan pentingnya kontribusi setiap elemen masyarakat.
Komitmen Kebangsaan di Bawah Panji Pancasila
Di tengah keprihatinan global, Haedar menegaskan kembali posisi konsisten Muhammadiyah dalam konteks berbangsa dan bernegara. Ia mengingatkan pentingnya berpegang pada keputusan Tanwir Makassar 2015 yang menetapkan Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, atau negara konsensus dan kesaksian. Posisi ini menjadi kompas bagi organisasi dalam menjaga keseimbangan nilai-nilai kebangsaan, agama, dan kebudayaan.
Dalam penutupnya, Haedar menyerukan peran aktif seluruh komponen bangsa. Ia menegaskan bahwa Indonesia sebagai hasil konsensus nasional harus dijaga dan dirawat bersama.
“Indonesia sebagai negara dengan dasar Pancasila harus kita jaga sebagai hasil konsensus nasional. Muhammadiyah harus terus mengawal bangsa agar menuju Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” pungkasnya menutup pernyataan.
Artikel Terkait
United Tractors Alokasikan Rp 2 Triliun untuk Buyback Saham
Impack Pratama Industri (IMPC) Lampaui Target 2025, Waspadai Tantangan Geopolitik untuk 2026
Pelatih Bulgaria Apresiasi Transformasi Cepat Timnas Indonesia di Bawah Herdman
Anak di Banyuwangi Diduga Aniaya Ibu Kandung Hingga Tewas