Wamen PU Tinjau Tanggul Jebol di Madiun, Targetkan Perbaikan Darurat Dua Pekan

- Rabu, 01 April 2026 | 11:25 WIB
Wamen PU Tinjau Tanggul Jebol di Madiun, Targetkan Perbaikan Darurat Dua Pekan

PARADAPOS.COM - Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti memimpin penanganan darurat atas jebolnya tanggul Bendung Kedungrejo di Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kerusakan yang terjadi pada akhir Maret 2026 itu mengancam sistem irigasi untuk ribuan hektare sawah. Dalam kunjungannya ke lokasi, Wamen Diana menargetkan pekerjaan darurat, termasuk pembersihan sedimentasi dan pengalihan aliran air, dapat diselesaikan dalam waktu sekitar dua minggu.

Langkah Darurat dan Kronologi Kerusakan

Menyusul insiden tersebut, pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo segera bergerak. Fokus pertama adalah tindakan darurat untuk mengamankan lokasi dan mencegah dampak yang lebih luas. Rencananya, sedimentasi yang menumpuk akan dibersihkan dan bagian bangunan yang sudah roboh akan dirobohkan secara terkendali. Langkah ini dinilai krusial untuk mengembalikan aliran sungai ke jalurnya.

Wamen Diana Kusumastuti menjelaskan, "Penanganan darurat kita lakukan lebih dulu. Sedimentasi akan dibersihkan, kemudian bagian bangunan yang roboh akan kita hancurkan agar aliran sungai bisa diarahkan kembali. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua minggu."

Bendung yang terletak di Kecamatan Pilangkenceng ini mengalami kerusakan bertahap. Tanggul pengendali aliran airnya pertama kali ambrol pada Jumat, 27 Maret 2026. Kondisi semakin parah ketika tebing di sekitar bendung ikut longsor beberapa hari kemudian, tepatnya pada Selasa dini hari tanggal 31 Maret.

Usia Tua dan Dampak Luas pada Pertanian

Dari pantauan di lapangan, usia infrastruktur menjadi faktor penting. Bendung Kedungrejo merupakan bangunan peninggalan kolonial yang dibangun pada 1936 dan hanya mengalami satu kali renovasi besar sekitar tahun 1970-an. Usia yang hampir mencapai satu abad dengan perawatan yang terbatas membuat struktur bangunan rentan terhadap tekanan air dan perubahan lingkungan.

Dampak kerusakan ini langsung terasa bagi sektor pertanian lokal. Bendung tersebut selama ini menjadi urat nadi irigasi untuk 1.554 hektare lahan sawah di Pilangkenceng dan sekitarnya. Kerusakan berarti mengganggu pasokan air ke sawah-sawah tersebut, yang berpotensi mengancam produksi pangan di wilayah yang dikenal sebagai lumbung pangan tersebut.

Wamen Diana menegaskan respons cepatnya, "Setelah saya menerima informasi Bendung Kedungrejo jebol, saya langsung telepon Kepala BBWS Bengawan Solo untuk menanyakan kondisinya. Hari ini saya datang langsung untuk melihat kerusakan yang terjadi."

Rencana Pembangunan Kembali dan Kolaborasi Daerah

Setelah fase darurat, pemerintah telah menyiapkan skema untuk pemulihan permanen. Rencana pembangunan kembali bendung akan diusulkan melalui skema Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan infrastruktur irigasi. Anggaran sementara yang diperkirakan untuk proyek permanen ini mencapai Rp20 miliar, dengan detail engineering design (DED) akan disiapkan oleh pemerintah provinsi Jawa Timur.

Kolaborasi antar tingkat pemerintahan ditekankan dalam proses rekonstruksi ini. "Untuk pembangunan kembali, kami berkolaborasi dengan provinsi dan kabupaten juga, agar air ini tetap terjaga sehingga tidak meluap kemana-mana dan bisa diarahkan untuk irigasi," tutur Diana Kusumastuti.

Respons cepat pemerintah pusat ini diapresiasi oleh Wakil Bupati Madiun, Purnomo Hadi. Pemerintah daerah telah melaporkan kejadian ini segera setelah terjadi, mengingat fungsi bendung yang sangat vital.

Purnomo Hadi mengungkapkan, "Begitu kejadian jebol, kami melalui dinas terkait langsung menyurati BBWS dan kementerian. Alhamdulillah responsnya sangat cepat. Dari tanggal 27 Maret, hari ini 1 April dilakukan peninjauan dengan Bu Wamen PU turun langsung ke lokasi."

Peninjauan Langsung dan Upaya Berkelanjutan

Dalam peninjauan yang dilakukan pada Rabu, 1 April 2026 itu, Wamen Diana didampingi langsung oleh Wakil Bupati serta jajaran dinas terkait dari provinsi dan BBWS Bengawan Solo. Saat ini, puluhan personel beserta peralatan dan material telah diturunkan ke lokasi untuk segera memulai pekerjaan darurat.

Wakil Bupati Purnomo Hadi kembali menekankan urgensi perbaikan. "Yang paling penting fungsi bendung ini bisa segera dipakai kembali. Setelah itu baru dilakukan pembangunan permanen. Ini penting karena bendung ini menopang lebih dari 1.500 hektare sawah dan menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan pangan," jelasnya.

Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur irigasi tua di Indonesia dan pentingnya pemeliharaan berkelanjutan. Penanganan yang terkoordinasi antara pusat dan daerah seperti ini menjadi kunci untuk meminimalisir gangguan terhadap ketahanan pangan dan perekonomian masyarakat lokal.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar