Pemerintah Solok Apresiasi Lomba Ayam Kukuak Balenggek untuk Jaga Warisan Budaya dan Ekonomi Lokal

- Jumat, 03 April 2026 | 20:25 WIB
Pemerintah Solok Apresiasi Lomba Ayam Kukuak Balenggek untuk Jaga Warisan Budaya dan Ekonomi Lokal

PARADAPOS.COM - Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mengapresiasi penyelenggaraan lomba ayam kukuak balenggek sebagai upaya konkret melestarikan warisan budaya lokal. Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menegaskan ajang ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama para peternak.

Lebih dari Sekadar Hewan Peliharaan

Dalam sambutannya di Solok pada Jumat, Bupati Jon Firman Pandu menekankan bahwa ayam kukuak balenggek memegang peran yang jauh lebih penting. Ia menyatakan bahwa hewan ini merupakan bagian integral dari identitas budaya masyarakat Minangkabau di wilayah tersebut, yang eksistensinya wajib dijaga dari kepunahan.

"Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi para peternak ayam balenggek," ujarnya.

Kategori Lomba dan Antusiasme Masyarakat

Lomba yang bertajuk Aika Salimpek Saiyo Sakato Cup II ini menampilkan beragam kategori penilaian. Para juri menilai mulai dari kelas landik, boko, hingga istimewa, dengan fokus pada panjang suara, keindahan lenggok kukuak (kokok), serta performa ayam di arena. Acara berlangsung semarak, dipadati oleh antusiasme peserta dan penonton yang menyaksikan langsung keunikan kontes ini.

Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda tahunan yang mampu menarik minat wisatawan, sekaligus menggerakkan potensi ekonomi lokal Kabupaten Solok. Komitmen ini juga diperkuat oleh Pemerintah Kabupaten yang telah menjadikan kontes ayam kukuak balenggek sebagai agenda tahunan untuk mengukuhkannya sebagai aset daerah.

Mengenal Ayam "Penyanyi" Khas Solok

Ayam kukuak balenggek merupakan ras lokal asli yang berasal dari Kabupaten Solok, khususnya dari Kecamatan Payung Sekaki dan Tigo Lurah. Julukan "ayam penyanyi" melekat padanya berkat suara kokok yang merdu, panjang, dan bertingkat-tingkat—dalam bahasa Minang disebut 'balenggek'. Keunikan suaranya bahkan bisa mencapai belasan suku kata dalam satu tarikan napas.

Sayangnya, keindahan suara ini terancam sirna. Populasi ayam ini mulai tergolong langka dan menghadapi ancaman kepunahan jika tidak ada upaya pelestarian yang serius. Kendati demikian, masih ada secercah harapan. Bupati Solok turut mengapresiasi sejumlah komunitas di berbagai daerah yang masih aktif menjaga dan membudidayakan populasi ayam khas ini, sebuah langkah kecil yang berdampak besar bagi kelangsungan warisan budaya.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar