PARADAPOS.COM - Pemerintah Kabupaten Solok, Sumatera Barat, mengapresiasi penyelenggaraan lomba ayam kukuak balenggek sebagai upaya konkret melestarikan warisan budaya lokal. Bupati Solok, Jon Firman Pandu, menegaskan ajang ini bukan sekadar perlombaan, tetapi juga sarana mempererat silaturahmi dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama para peternak.
Lebih dari Sekadar Hewan Peliharaan
Dalam sambutannya di Solok pada Jumat, Bupati Jon Firman Pandu menekankan bahwa ayam kukuak balenggek memegang peran yang jauh lebih penting. Ia menyatakan bahwa hewan ini merupakan bagian integral dari identitas budaya masyarakat Minangkabau di wilayah tersebut, yang eksistensinya wajib dijaga dari kepunahan.
"Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat, terutama bagi para peternak ayam balenggek," ujarnya.
Kategori Lomba dan Antusiasme Masyarakat
Lomba yang bertajuk Aika Salimpek Saiyo Sakato Cup II ini menampilkan beragam kategori penilaian. Para juri menilai mulai dari kelas landik, boko, hingga istimewa, dengan fokus pada panjang suara, keindahan lenggok kukuak (kokok), serta performa ayam di arena. Acara berlangsung semarak, dipadati oleh antusiasme peserta dan penonton yang menyaksikan langsung keunikan kontes ini.
Panitia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi agenda tahunan yang mampu menarik minat wisatawan, sekaligus menggerakkan potensi ekonomi lokal Kabupaten Solok. Komitmen ini juga diperkuat oleh Pemerintah Kabupaten yang telah menjadikan kontes ayam kukuak balenggek sebagai agenda tahunan untuk mengukuhkannya sebagai aset daerah.
Mengenal Ayam "Penyanyi" Khas Solok
Ayam kukuak balenggek merupakan ras lokal asli yang berasal dari Kabupaten Solok, khususnya dari Kecamatan Payung Sekaki dan Tigo Lurah. Julukan "ayam penyanyi" melekat padanya berkat suara kokok yang merdu, panjang, dan bertingkat-tingkat—dalam bahasa Minang disebut 'balenggek'. Keunikan suaranya bahkan bisa mencapai belasan suku kata dalam satu tarikan napas.
Sayangnya, keindahan suara ini terancam sirna. Populasi ayam ini mulai tergolong langka dan menghadapi ancaman kepunahan jika tidak ada upaya pelestarian yang serius. Kendati demikian, masih ada secercah harapan. Bupati Solok turut mengapresiasi sejumlah komunitas di berbagai daerah yang masih aktif menjaga dan membudidayakan populasi ayam khas ini, sebuah langkah kecil yang berdampak besar bagi kelangsungan warisan budaya.
Artikel Terkait
Ruben Onsu Siapkan Pendampingan Hukum untuk Betrand Peto jika Terbukti Dilaporkan Sarwendah
Perjalanan Cristiano Ronaldo di Piala Dunia Resmi Berakhir Usai Portugal Tumbang dari Spanyol di Babak 16 Besar
Kapolda Riau Resmikan 80 Jembatan Merah Putih Presisi Tahap II, Kado Hari Bhayangkara ke-80
Direktur ABC Riset: Kemenangan Praperadilan Roy Suryo Cerminkan Keanehan Proses Hukum Kasus Ijazah Presiden