Banjir Demak Surut, Satu Korban Jiwa Ditemukan

- Minggu, 05 April 2026 | 13:50 WIB
Banjir Demak Surut, Satu Korban Jiwa Ditemukan

PARADAPOS.COM - Banjir yang sempat melumpuhkan Kabupaten Demak, Jawa Tengah, mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Namun, kabar baik itu disertai kabar duka dengan ditemukannya seorang korban jiwa, seorang anak perempuan berusia delapan tahun yang sebelumnya dilaporkan hilang. Kondisi genangan air di permukiman kini dilaporkan tersisa rata-rata 5-10 sentimeter, sementara upaya perbaikan tanggul yang jebol di beberapa titik masih terus dilakukan secara intensif.

Korban Jiwa Ditemukan dan Kondisi Banjir Berangsur Surut

Setelah beberapa hari dihantam banjir, situasi di Demak perlahan mulai membaik. Meski demikian, bencana ini telah merenggut satu nyawa. Korban adalah seorang anak perempuan berusia delapan tahun, warga Desa Trimulyo, Kecamatan Guntur. Ia ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah sebelumnya dinyatakan hilang saat banjir menerjang pada Jumat, 3 April 2026.

Di sisi lain, laporan terbaru menunjukkan perkembangan positif. Ketinggian air di kawasan perumahan yang sempat mencapai lebih dari satu meter kini telah menyusut signifikan. Hal ini berdampak langsung pada jumlah warga yang masih harus mengungsi.

Jumlah Pengungsi Menurun Drastis

Berdasarkan pantauan di lapangan, mayoritas warga telah kembali ke rumah mereka seiring surutnya genangan. Jika sebelumnya ribuan jiwa terpaksa mengungsi, data terbaru menunjukkan penurunan yang sangat tajam.

Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, memberikan konfirmasi mengenai perkembangan ini. "Ketinggian air di kawasan permukiman rata-rata tersisa sekitar 5 hingga 10 sentimeter. Seiring surutnya air, jumlah pengungsi juga menurun drastis," jelasnya dalam keterangan tertulis pada Minggu, 5 April 2026.

Per Sabtu sebelumnya, tercatat hanya 12 jiwa yang masih bertahan di posko pengungsian, tepatnya di Madrasah Diniyah Sindon. Angka ini jauh menurun dari puncak pengungsian yang mencapai 2.839 jiwa.

Fokus pada Perbaikan Infrastruktur yang Rusak

Meski air sudah surut, pekerjaan berat masih menanti. Fokus penanganan kini beralih ke perbaikan infrastruktur, terutama tanggul-tanggul yang jebol dan menyebabkan luapan air masif. Upaya darurat ini dilakukan dengan metode tradisional yang terbukti efektif, menggunakan material seperti jumbo bag, sesek (anyaman bambu), serta pancang bambu dan glugu (batang kelapa).

Abdul Muhari memaparkan rincian upaya perbaikan yang sedang berjalan. "Upaya penanganan darurat terus dilakukan, terutama pada titik-titik tanggul yang jebol. Di Dusun Soloware, Desa Trimulyo, perbaikan dilakukan dengan memasang 300 jumbo bag, 400 sesek, serta 50 batang pancang bambu dan 50 batang glugu. Pekerjaan ini ditargetkan rampung dalam waktu sekitar 10 hari," tuturnya.

Perbaikan serupa juga dilakukan secara paralel di lokasi lain yang rusak, seperti di Dusun Solondoko dan Desa Sidoharjo, dengan skala material yang lebih besar dan target penyelesaian sekitar 14 hari.

Dampak Luas dan Respon Cepat dari Pihak Berwenang

Banjir yang dipicu hujan lebat dan luapan Sungai Tuntang ini sebelumnya memberikan dampak yang cukup luas. Delapan desa di empat kecamatan terdampak, dengan genangan di beberapa titik mencapai 100-150 sentimeter, memutus akses jalan, dan menggenangi area persawahan.

Respon terhadap bencana ini mendapat perhatian langsung dari pimpinan tertinggi penanggulangan bencana. Meski sedang menangani situasi darurat gempa di Manado, Kepala BNPB Suharyanto dikabarkan langsung menginstruksikan koordinasi intensif dengan BPBD Jawa Tengah dan pengiriman personel ke lokasi untuk mempercepat proses penanganan. Langkah ini menunjukkan skala prioritas dan alokasi sumber daya yang dilakukan oleh otoritas terkait dalam menangani multi-bencana secara bersamaan.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar