PARADAPOS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) melaporkan, serangan terhadap fasilitas kesehatan di Sudan telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Sejak konflik bersenjata meletus pada April 2023, sedikitnya 214 serangan tercatat, menewaskan lebih dari 2.000 orang dan melukai hampir 800 lainnya. Laporan terbaru ini menyoroti eskalasi kekerasan yang justru membatasi akses masyarakat terhadap layanan kesehatan di saat mereka paling membutuhkannya.
Korban Jiwa Terus Berjatuhan di Fasilitas Medis
Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Sabtu (4/4), dua badan PBB tersebut mengungkap data korban yang terus membengkak. Tragisnya, tren kekerasan ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Hanya dalam tiga bulan pertama tahun 2026 saja, telah terjadi 184 kematian dan 295 luka-luka akibat serangan-serangan serupa. Angka ini memperkuat gambaran betapa rapuhnya zona aman dan tempat penyembuhan di tengah gejolak konflik yang berkepanjangan.
Peringatan Keras dari Pimpinan PBB di Lapangan
Para perwakilan di lapangan menyuarakan keprihatinan mendalam atas memburuknya situasi. Shible Sahbani, perwakilan WHO untuk Sudan, menegaskan dampak langsung dari aksi-aksi kekerasan ini terhadap warga sipil.
"Serangan-serangan ini semakin membatasi akses ke layanan kesehatan pada saat layanan tersebut paling dibutuhkan," tegasnya, seraya menyerukan perlindungan segera bagi pasien dan tenaga kesehatan.
Dari sudut pandang perlindungan anak, Sheldon Yett, perwakilan UNICEF, menyoroti dimensi lain dari tragedi ini. Ia menekankan bahwa rumah sakit dan klinik seharusnya menjadi tempat perlindungan, bukan sasaran.
Serangan terhadap rumah sakit merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak anak. Hal itu merampas perlindungan dan layanan penting bagi anak-anak pada saat-saat rentan,ungkap Yett.
Pelanggaran Hukum dan Perparah Krisis Kemanusiaan
WHO dan UNICEF secara tegas menyatakan bahwa serangan yang menargetkan fasilitas kesehatan, staf medis, dan pasien merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum humaniter internasional. Tindakan tersebut bukan hanya merenggut nyawa, tetapi juga memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah berada di ambang kolaps. Ketika rumah sakit tidak berfungsi, wabah penyakit mengancam, persalinan menjadi berisiko tinggi, dan luka-luka pertempuran tak tertangani.
Menyikapi kondisi darurat ini, kedua lembaga internasional itu mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera menghentikan serangan. Seruan mereka jelas: menghormati netralitas layanan kesehatan, menjamin keselamatan warga sipil dan pekerja kemanusiaan, serta membuka akses berkelanjutan bagi bantuan esensial untuk menjangkau mereka yang terperangkap.
Konflik yang Menghancurkan Negeri
Laporan ini muncul di tengah konflik yang telah menghancurkan Sudan selama hampir tiga tahun. Pertempuran sengit antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF), yang pecah pada pertengahan April 2023, telah menciptakan salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia. Data dari berbagai organisasi internasional memperkirakan konflik telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa jutaan warga Sudan meninggalkan rumah mereka, mengungsi baik di dalam negeri maupun ke negara tetangga.
Artikel Terkait
Brimob dan Polres Jaktim Gelar Patroli Dini Hari, Temukan Pesta Miras dan Pelanggaran Lalu Lintas
Brimob Gerebek Pesta Miras dan Tangkap Remaja Ngebut di Jakarta Timur
Wilder Atasi Chisora dalam Duel Sengit, Petinju Inggris Pensiun
Militer Nigeria Tewaskan Puluhan Bandit Usai Penculikan Massal di Zamfara