Harga Sembako di Pasar Tradisional Masih Fluktuasi Pasca-Lebaran

- Selasa, 07 April 2026 | 01:50 WIB
Harga Sembako di Pasar Tradisional Masih Fluktuasi Pasca-Lebaran

PARADAPOS.COM - Harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional masih mengalami fluktuasi pasca libur Lebaran. Di Pasar Karangayu, Semarang, Jawa Tengah, minyak goreng curah dan gula pasir tercatat mengalami kenaikan signifikan. Sementara itu, di Pasar Tradisional Inpres Medan, Sumatera Utara, harga ayam potong dan bawang merah merangkak naik, meski harga cabai justru menunjukkan tren penurunan. Kondisi ini memengaruhi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, meski stok barang di lapangan dilaporkan masih aman.

Lonjakan Harga di Pasar Karangayu Semarang

Suasana Pasar Karangayu di Semarang pasca Lebaran masih diwarnai ketidakstabilan harga. Komoditas seperti minyak goreng curah dan gula pasir menjadi perhatian utama karena harganya yang melonjak. Pedagang setempat mencatat, kenaikan ini telah berlangsung sejak periode hari raya.

Suwarni, salah seorang pedagang di pasar tersebut, memberikan rincian terkini. "Minyak goreng curah itu Rp21 ribu per liter dari agen, sebelumnya Rp17-Rp18 ribu per liter. (Gula pasir) sebelumnya harga Rp16 ribu sekarang Rp17 ribu lebih. Mau Lebaran itu sudah pada naik semua," jelasnya.

Tak hanya kedua barang itu, cabai rawit merah juga ikut meroket menjadi Rp70 ribu per kilogram dari harga sebelumnya Rp55 ribu. Di tengah kenaikan tersebut, ada sedikit penyeimbang dengan turunnya harga ayam menjadi Rp40 ribu per kg. Meski stok dari distributor masih terpantau aman, para pedagang berharap situasi, terutama harga minyak, dapat segera normal kembali.

Dinamika Berbeda di Pasar Inpres Medan

Di sisi lain Indonesia, tepatnya di Pasar Tradisional Inpres Medan, dinamika harganya menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Ayam potong dijual seharga Rp40 ribu per kg, mengalami kenaikan dari sebelumnya Rp38 ribu. Sementara itu, harga ayam kampung bertahan di level tinggi, yakni Rp80 ribu per kg. Pedagang mengaitkan hal ini dengan biaya distribusi yang meningkat dan pasokan yang terbatas.

Berbeda dengan tren di Semarang, harga cabai di Medan justru mengalami penurunan. Cabai merah dijual Rp22 ribu per kg dan cabai rawit Rp30 ribu per kg, angka yang lebih rendah dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, keseimbangan pasar terus berubah. Bawang merah, misalnya, melonjak dari Rp35 ribu menjadi Rp40 ribu per kg, sementara bawang putih dan tomat bertahan stabil.

Untuk minyak goreng, harga MinyaKita masih stabil di Rp18.500 per liter, dan minyak curah di angka Rp21 ribu per liter. Meski demikian, di balik angka-angka yang terpantau stabil ini, daya beli masyarakat diakui belum pulih sepenuhnya. Fluktuasi ini memaksa sebagian konsumen menyesuaikan pola belanja, bahkan mengurangi jumlah pembelian.

Harapan Pedagang di Tengah Fluktuasi

Meski dihadapkan pada kondisi harga yang naik-turun, para pedagang di kedua pasar tersebut menyatakan ketersediaan barang masih mencukupi. Tantangan terbesar saat ini justru terletak pada daya beli masyarakat yang belum optimal. Pedagang berharap, stabilitas harga dapat segera tercapai sehingga aktivitas ekonomi di pasar tradisional bisa kembali bergairah dan konsumen tidak perlu lagi mengencangkan ikat pinggang terlalu dalam.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar