PARADAPOS.COM - Seorang bidan di Lampung berhasil mengawinkan dedikasi di bidang kesehatan dengan komitmen untuk melestarikan warisan budaya. Asri, istri dari seorang prajurit TNI, menjalani hari-harinya dengan dua peran: melayani masyarakat sebagai tenaga kesehatan di puskesmas dan merajut benang emas menjadi kain tapis khas Lampung di rumah. Perjalanannya melanjutkan usaha keluarga sejak 2023 ini tidak hanya tentang ekonomi, tetapi juga tentang menjaga filosofi dan nilai-nilai tradisi agar tetap hidup dan relevan di masa kini.
Dua Dunia dalam Satu Kehidupan
Pagi hingga siang, seragam putihnya menjadi simbol pelayanan di puskesmas. Namun, selepas bertugas, dunia lain menunggu. Di rumah, ketelitian yang sama ia terapkan, bukan pada alat medis, tetapi pada helai benang emas dan perak yang akan disulam menjadi tapis. Sebagai istri Kopda Angga Dwi Ferdian dan ibu dari dua anak, keputusannya untuk tetap produktif berasal dari kesadaran penuh akan tanggung jawabnya dalam berbagai peran.
“Saya ingin tetap produktif dari rumah dan membantu perekonomian keluarga tanpa meninggalkan peran sebagai ibu dan istri,” tuturnya.
Meneruskan Estafet Keluarga
Jiwa wirausaha dan kecintaan pada tapis bukanlah hal baru bagi Asri. Usaha sulam tapis ini telah dirintis keluarganya sejak 1992. Ketika orang tuanya tak lagi mampu melanjutkan produksi, estafet menjaga warisan itu pun berpindah ke pundaknya. Pada 2023, dengan tekad bulat, ia memutuskan untuk melanjutkan usaha keluarga. Keputusan itu sarat makna, mewarisi bukan hanya bisnis, tetapi juga nilai kerja keras, kemandirian, dan ketekunan yang telah dibangun puluhan tahun.
Inovasi untuk Menjaga Relevansi
Bagi masyarakat Lampung, tapis adalah simbol yang mengandung doa, kehormatan, dan filosofi hidup. Asri memahami betul makna mendalam itu. Namun, ia juga sadar bahwa menjaga tradisi tidak boleh berarti kaku. Melalui UMKM Asri Tapis Lampung, ia menghadirkan inovasi, memadukan motif batik dengan sulaman khas tapis. Pendekatan kreatif ini membuat kain adat tidak lagi terbatas pada upacara formal, tetapi bisa dinikmati dalam keseharian tanpa kehilangan identitas budayanya.
Memulai dari Langkah Kecil
Perjalanan membangun usaha tentu tidak instan. Dengan modal awal sekitar Rp20 juta, Asri memulai segalanya secara bertahap. Ia belajar mengelola produksi, merancang strategi pemasaran, dan mengatur keuangan. Tantangan dalam menjaga kualitas dan memperluas pasar pun dihadapi satu per satu. Dukungan dari lingkungan, termasuk apresiasi dari organisasi Persit KCK Daerah II/Sriwijaya, menguatkan langkahnya. Mereka melihat upaya Asri tidak sekadar melestarikan budaya, tetapi juga memberdayakan ekonomi.
Dampak yang Meluas
Kini, usaha yang dirintisnya telah berkembang melampaui sekadar sumber penghasilan tambahan. Asri Tapis Lampung telah membuka lapangan kerja bagi tujuh orang karyawan dalam proses produksinya, menciptakan ruang pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Bagi Asri sendiri, kesuksesan diukur lebih dari angka penjualan. Ia ingin generasi muda tetap mengenal dan mencintai tapis, serta membuktikan bahwa kain tradisional bisa tetap bersaing di tengah zaman.
Hari-hari Asri memang padat, beralih dari ruang puskesmas ke ruang produksi tapis. Namun, dalam kepadatan itu, terdapat sebuah narasi tentang ketekunan dan keberanian. Di tangannya, setiap sulaman pada tapis adalah upaya nyata untuk menjaga jati diri budaya Lampung, mengukir ceritanya sendiri di atas kain warisan leluhur.
Artikel Terkait
Pria Tewas Ditikam Orang Tak Dikenal di Lubuklinggau
ITS Surabaya Kembangkan Bensin Sawit sebagai Alternatif Energi Nasional
Layanan Telekomunikasi Stabil Sepanjang Ramadan dan Idulfitri 2026
Pemerintah Pastikan Biaya Haji Tak Naik, Rp1,77 Triliun Dibiayai dari Optimalisasi Penerimaan Negara