Harga Minyak Goreng di Lamongan Melonjak, Pedagang dan Usaha Mikro Tertekan

- Minggu, 12 April 2026 | 16:25 WIB
Harga Minyak Goreng di Lamongan Melonjak, Pedagang dan Usaha Mikro Tertekan

PARADAPOS.COM - Harga minyak goreng di Pasar Sidoharjo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, melonjak tajam pada Minggu, 12 April 2026. Kenaikan ini langsung berdampak pada pedagang pasar dan pelaku usaha mikro, memicu kekhawatiran akan daya beli masyarakat dan kelangsungan usaha. Lonjakan harga diduga dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari peningkatan permintaan pasca Lebaran hingga guncangan rantai pasokan global.

Dampak Langsung di Lapak Pasar

Di tengah riuh Pasar Sidoharjo, para pedagang harus menyesuaikan label harga. Minyak goreng kemasan program pemerintah, Minyakita ukuran 800 ml, naik dari Rp 16.000 menjadi Rp 18.000. Kenaikan yang lebih signifikan justru terjadi pada minyak goreng curah, yang kini dijual Rp 21.000 per kilogram, melambung dari harga normal Rp 19.000. Lonjakan ini menciptakan ketidakpastian di antara para penjual yang harus menjelaskan perubahan harga kepada pembeli.

Rama, salah seorang pedagang di pasar tersebut, mencoba menganalisis penyebabnya dari balik lapaknya. Menurut pengamatannya, ada lebih dari satu faktor yang berperan.

"Sepertinya imbas konflik Timur Tengah juga, mas. Itu buat bahan baku seperti plastik naik, ditambah lagi mungkin permintaan dari masyarakat memang sedang tinggi," tuturnya.

Tekanan Berat pada Pelaku Usaha Kecil

Efek domino kenaikan ini tidak berhenti di pasar. Bagi para pelaku usaha mikro seperti Said, seorang penjual gorengan, kenaikan harga minyak curah langsung memangkas margin keuntungannya. Modal Rp 50.000 yang biasa ia keluarkan kini hanya mendapatkan volume minyak yang lebih sedikit, membuat kalkulasi biaya produksinya berantakan.

Di tengah situasi sulit itu, Said dihadapkan pada pilihan yang serba salah: menaikkan harga jual dan berisiko kehilangan pelanggan setia, atau menahan beban tambahan dan menerima untung yang semakin tipis. Ia memilih opsi kedua, sebuah strategi bertahan yang banyak diambil pelaku usaha serupa.

“Biasanya Rp 50.000 itu dapat 2 kilogram lebih, sekarang berkurang. Untuk jualan jadi agak sulit, untungnya jadi tipis banget. Saya tidak berani menaikkan harga gorengan, takut pembeli kabur," keluhnya, menggambarkan dilema riil di lapangan.

Harapan akan Intervensi dan Stabilitas

Gelombang kenaikan ini menyisakan harapan agar ada langkah penstabilan. Baik pedagang seperti Rama maupun pelaku usaha seperti Said sama-sama berharap pemerintah dapat segera turun tangan. Stabilitas harga komoditas pokok seperti minyak goreng dinilai krusial bukan hanya untuk menjaga daya beli masyarakat, tetapi juga untuk memastikan denyut nadi usaha kecil dan mikro tetap berdetak. Tanpa intervensi yang tepat, tekanan inflasi pada tingkat konsumen akhir dan geliat ekonomi akar rumput dikhawatirkan akan semakin berat di minggu-minggu mendatang.

Editor: Annisa Rachmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar