BPOM Waspadai Kenaikan Harga Obat Akibat Ketergantungan Impor Bahan Baku

- Senin, 20 April 2026 | 10:25 WIB
BPOM Waspadai Kenaikan Harga Obat Akibat Ketergantungan Impor Bahan Baku

PARADAPOS.COM - Ketergantungan industri farmasi nasional terhadap impor bahan baku dan kemasan berbasis petrokimia dinilai dapat memicu kenaikan harga obat di tengah gejolak geopolitik global. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar mengungkapkan hal tersebut dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI, Senin (20/4/2026), seraya menyiapkan strategi mitigasi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Kerentanan Rantai Pasok Farmasi

Paparan Taruna di Senayan menggarisbawahi kerapuhan fondasi industri obat dalam negeri. Faktanya, lebih dari 50% komponen kemasan obat berasal dari turunan petrokimia. Sementara itu, sekitar 30% bahan baku obat kimia, termasuk parasetamol dan ibuprofen, juga berkaitan dengan turunan serupa. Ketergantungan ini menjadi titik kritis, terutama ketika pasokan global terganggu.

Kondisi ini semakin diperparah oleh fakta bahwa sekitar 90% kebutuhan bahan baku, produk antara, hingga biosimilar masih diimpor dari luar negeri. Dominasi impor ini membuat harga obat di dalam negeri sangat rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan logistik internasional.

Dua Langkah Strategis BPOM

Menghadapi tekanan tersebut, BPOM tidak tinggal diam. Otoritas regulator ini menyiapkan dua strategi utama sebagai bantalan. Pertama, dengan melakukan relaksasi aturan kemasan obat. Kebijakan ini memungkinkan industri untuk mengganti bahan kemasan tanpa melalui proses uji yang berbelit, asalkan keamanan dan stabilitas produk tetap terjamin.

Langkah ini dinilai strategis mengingat komponen kemasan menyumbang sekitar 30% dari harga obat akhir. Fleksibilitas ini membuka ruang bagi industri untuk mencari alternatif material yang lebih efisien dan tersedia secara lokal, seperti mengganti jenis plastik tertentu dengan botol atau material lain.

Taruna Ikrar memberikan konteks waktu terkait situasi saat ini. "Selama ini kita masih aman sampai sekitar 6 bulan ke depan, tapi kalau perang berlanjut tentu akan berpengaruh," tuturnya.

Diversifikasi Sumber Impor

Strategi kedua yang digalakkan adalah diversifikasi sumber impor bahan baku. BPOM berupaya memanfaatkan pengakuannya sebagai otoritas regulator berstandar internasional (WHO Listed Authority) untuk memperkuat posisi tawar Indonesia. Selama ini, pasokan bahan baku banyak bergantung pada China, India, negara-negara Eropa seperti Belanda dan Swiss, serta Amerika Serikat.

Ke depan, pemerintah mulai menjajaki sumber pasokan baru dari kawasan lain, termasuk Pasifik dan Rusia. Upaya ini bertujuan memutus ketergantungan berlebihan pada satu atau dua negara tertentu.

Taruna menegaskan pentingnya langkah ini. "Dengan posisi ini, kita punya bargaining untuk mencari sumber lain, sehingga ketergantungan tidak hanya pada negara tertentu," jelasnya.

Prioritas Ketersediaan di Atas Harga

Meski upaya penekanan harga terus dilakukan, BPOM menegaskan bahwa aspek ketersediaan obat tetap menjadi prioritas utama. Dalam pandangan regulator, obat memiliki karakter khusus yang tidak memiliki substitusi langsung layaknya komoditas pangan. Kelangkaan obat bisa berdampak lebih serius bagi kesehatan masyarakat.

Target kombinasi kedua strategi tersebut diharapkan dapat menjaga stabilitas harga dan ketersediaan obat setidaknya hingga akhir tahun, meski risiko dari eskalasi konflik di Timur Tengah tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai.

Taruna menutup penjelasannya dengan penekanan pada prinsip dasar tersebut. "Kalau obat tidak tersedia, walaupun harganya murah tetap tidak bisa dimanfaatkan. Itu yang kita jaga," pungkasnya.

Editor: Reza Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar