PARADAPOS.COM - Letnan Jenderal TNI Djon Afriandi, Panglima Komando Pasukan Khusus (Pangkopassus) yang baru dilantik, menorehkan karier militer yang mengesankan. Perwira tinggi kelahiran Payakumbuh, 14 Juni 1972 ini bukan hanya dikenal sebagai lulusan terbaik Akademi Militer 1995 penerima Adhi Makayasa, tetapi juga sebagai prajurit yang menguasai kualifikasi langka di dunia, termasuk brevet Master Parachutist dari Angkatan Darat Amerika Serikat. Perjalanannya dari ujung tombak pasukan hingga pucuk pimpinan mencerminkan dedikasi dan kompetensi yang diakui dalam institusi TNI.
Karier dari Baret Merah hingga Paspampres
Djon Afriandi mengawali pengabdiannya di Korps Baret Merah pada 1997, dengan bertugas di berbagai posisi komandan peleton (Danton) di Grup 1 Kopassus. Pengalaman lapangan yang intens selama hampir 14 tahun di kesatuan elit ini membentuk fondasi kepemimpinannya. Pada 2011, pria yang juga menyandang gelar Master of Science in Defense Analysis dari Naval Postgraduate School AS ini mendapat penugasan berbeda di Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).
Di Paspampres, dia dipercaya memimpin sebagai Danden 1 Grup A sebelum kemudian dipromosikan menjadi Wakil Komandan Grup A. Periode ini menunjukkan kepercayaan institusi terhadap kemampuannya dalam bidang pengamanan VVIP, sebuah tugas yang membutuhkan presisi dan kewaspadaan tingkat tinggi.
Naik Pangkat dan Memegang Komando Teritorial
Setelah kembali ke Kopassus dan menduduki posisi Asisten Operasi, karir Djon Afriandi terus menanjak. Pada 2017, dia memegang komando langsung sebagai Komandan Grup 1/Kopassus, posisi kunci yang biasanya dipercayakan kepada perwira dengan rekam jejak operasional yang solid. Perkembangan kariernya kemudian meluas ke bidang teritorial ketika pada 2020 dia ditunjuk menjadi Komandan Korem 012/Teuku Umar di Aceh.
Penugasan di wilayah ini, yang memiliki kompleksitas keamanan dan sosial tersendiri, mengasah kemampuannya dalam memadukan pendekatan militer dengan pembinaan wilayah. Tak lama setelahnya, pada 2022, dia kembali ke dunia pendidikan militer dengan menjabat Komandan Resimen Taruna Akademi Militer, sebuah posisi strategis untuk membentuk calon-calon pemimpin TNI masa depan. Jabatan inilah yang mengantarnya menyandang pangkat Brigadir Jenderal.
Kembali ke Kopassus dan Brevet Kualifikasi Langka
Setelah sempat menjadi Staf Khusus KSAD, Djon Afriandi akhirnya kembali ke rumahnya yang pertama. Dia ditunjuk sebagai Komandan Jenderal Kopassus sebelum kemudian diangkat menjadi Panglima Kopassus dengan pangkat Letnan Jenderal. Di pundaknya kini terbentang tanggung jawab besar untuk memimpin kesatuan khusus paling terkemuka di Indonesia.
Selain serangkaian jabatan prestisius, salah satu hal yang menonjol dari profilnya adalah kepemilikan atas brevet-brevet kualifikasi tinggi. Salah satunya adalah Master Parachutist Badge dari US Army, sebuah tanda keahlian yang tidak mudah diperoleh.
“Sekadar diketahui, untuk bisa mendapatkan badge ini, seorang prajurit harus memiliki kualifikasi sebagai jump master,” jelas sumber yang memahami prosedur kualifikasi tersebut. Lebih lanjut diungkapkan, “Prajurit tersebut juga sudah menjalani 65 kali penerjunan. 25 kali di antaranya dengan peralatan tempur lengkap selama 3 tahun.”
Pencapaian ini bukan sekadar lencana, tetapi bukti nyata dari ketekunan, keberanian, dan pengalaman operasional yang mendalam di udara—sebuah aset berharga bagi seorang pemimpin pasukan khusus. Rekam jejak Letjen Djon Afriandi, dari Adhi Makayasa hingga brevet langka dan berbagai komando strategis, menggambarkan lintasan seorang prajurit karier yang dibangun di atas dasar profesionalisme dan prestasi yang diakui secara institusional.
Artikel Terkait
BI Pertahankan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi 2026 di Tengah Tekanan Global
Indonesia Buka Peluang China Terbitkan Surat Utang di Pasar Domestik, Tawarkan Obligasi Panda Berbunga Rendah
Indonesia Dorong Asia Pasifik Jadi Kompas Pembangunan Berkelanjutan Dunia
6 dari 10 Gen Z di Jakarta Rela Pindah Hunian Demi Perjalanan ke Kantor yang Lebih Singkat