PARADAPOS.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan secara langsung melalui media sosial bahwa ia telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan membunuh kapal-kapal kecil Iran yang dianggap memasang ranjau di Selat Hormuz. Pernyataan ini muncul pada Jumat, 24 April 2026, tak lama setelah militer AS menyita sebuah kapal tanker yang diduga terkait penyelundupan minyak Iran. Trump menegaskan bahwa tidak boleh ada keraguan dalam pelaksanaan perintah tersebut, seraya mengklaim bahwa operasi pembersihan ranjau sedang berlangsung dan akan ditingkatkan tiga kali lipat.
Perintah Langsung dari Gedung Putih
Dalam unggahannya, Trump menulis dengan tegas: “Saya telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan membunuh kapal apa pun, meskipun kapal kecil, yang memasang ranjau di perairan Selat Hormuz.” Ia menambahkan bahwa kapal-kapal penyapu ranjau milik AS saat ini sedang membersihkan selat tersebut. “Tidak boleh ada keraguan. Selain itu, kapal-kapal 'penyapu ranjau' kita sedang membersihkan Selat saat ini,” ujarnya.
Trump juga menyampaikan bahwa aktivitas tersebut akan dilanjutkan dengan peningkatan tiga kali lipat. “Dengan ini saya memerintahkan aktivitas tersebut untuk dilanjutkan, tetapi dengan peningkatan tiga kali lipat!” tambahnya. Meskipun demikian, ia tidak memberikan bukti apa pun atas klaim bahwa AS memiliki "kendali penuh" atas Selat Hormuz.
Ketegangan di Selat Hormuz
Langkah ini diambil sehari setelah Garda Revolusi paramiliter Iran menyerang tiga kapal kargo di selat tersebut dan menangkap dua di antaranya. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur air strategis yang menjadi titik kritis bagi lalu lintas minyak dunia. Kapal-kapal kecil yang disebut Trump sebagai ancaman diduga dipasangi ranjau untuk menghambat pelayaran.
Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS merilis rekaman video pada Kamis pagi yang menunjukkan pasukan AS di dek kapal tanker minyak berbendera Guinea, Majestic X. Kapal tersebut disita di perairan internasional Samudra Hindia. “Kami akan melanjutkan penegakan hukum maritim global untuk mengganggu jaringan ilegal dan mencegat kapal yang memberikan dukungan material kepada Iran, di mana pun mereka beroperasi,” demikian pernyataan resmi Pentagon.
Penyitaan Kapal dan Sanksi
Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa Majestic X berada di Samudra Hindia, tepatnya antara Sri Lanka dan Indonesia, di lokasi yang hampir sama dengan kapal tanker minyak Tifani yang sebelumnya disita oleh pasukan AS. Kapal tersebut diketahui menuju Zhoushan, Tiongkok. Sebelumnya, Majestic X telah dikenai sanksi oleh Departemen Keuangan AS pada tahun 2024 karena menyelundupkan minyak mentah Iran yang melanggar sanksi Amerika.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan langsung dari Iran terkait penyitaan tersebut. Namun, para pejabat Iran terus mengecam keputusan Washington untuk mempertahankan blokade laut, yang oleh Teheran dianggap sebagai tindakan perang.
Pergantian Pejabat di Pentagon
Di tengah ketegangan ini, terjadi pula pergantian pejabat di tubuh militer AS. Sekretaris Angkatan Laut AS John Phelan dipecat pada Rabu, hanya beberapa minggu setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth memecat jenderal tertinggi angkatan darat, Jenderal Randy George. Pentagon menyatakan bahwa Phelan meninggalkan pemerintahan "berlaku segera," tanpa memberikan alasan lebih lanjut atau menyebut apakah itu keputusannya sendiri.
Posisi Phelan kemudian diambil alih oleh Wakil Menteri Hung Cao, seorang pendukung setia Trump yang pernah mencalonkan diri tanpa hasil untuk Senat dan DPR AS di Virginia. Hegseth sendiri telah memecat beberapa pemimpin militer tinggi lainnya sejak menjabat tahun lalu. Trump juga sebelumnya telah memecat Jenderal Charles "CQ" Brown Jr. sebagai ketua Kepala Staf Gabungan.
Editor: Yuli Astuti
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Periksa Pelapor Feri Amsari dengan 20 Pertanyaan soal Dugaan Hoaks Swasembada Pangan
Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Indonesia-Prancis di Bidang Kebudayaan
Pemerintah Luncurkan Program Bedah 15.000 Rumah di 17 Provinsi Perbatasan
Tsaqib dan Adhisty Zara Jadi Sorotan Usai Isu Kehamilan Tak Terverifikasi