PARADAPOS.COM - Investasi di sektor hilirisasi mulai menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Jika sebelumnya fokus utama adalah percepatan realisasi, kini perhatian bergeser pada kualitas dan keberlanjutan dampaknya terhadap ekonomi domestik. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengungkapkan bahwa meskipun kontribusi investasi hilirisasi telah mendekati 30 persen dari total realisasi nasional, sejumlah persoalan struktural mulai mengemuka dan berisiko menahan laju ekspansi ke depan.
Konsentrasi Berlebih pada Nikel
Salah satu tantangan yang paling menonjol adalah tingginya konsentrasi investasi pada komoditas tertentu, khususnya nikel. Ketergantungan yang begitu besar pada satu komoditas membuat arus investasi sangat rentan terhadap fluktuasi harga global.
“Ketergantungan pada nikel terlalu besar, sehingga siklus harga global langsung memengaruhi arus investasi,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (23/4/2026).
Selain itu, struktur kepemilikan investasi asing masih mendominasi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai distribusi nilai tambah dari proyek hilirisasi. Sejauh mana manfaatnya benar-benar dapat dirasakan oleh industri domestik masih menjadi perdebatan.
Proyek Enclave dan Minimnya Keterkaitan Domestik
Tantangan berikutnya adalah terbatasnya keterkaitan antara proyek hilirisasi dengan sektor ekonomi nasional. Banyak proyek yang masih bersifat enclave, artinya proyek tersebut berjalan terisolasi tanpa dampak signifikan terhadap penguatan rantai pasok dalam negeri.
“Banyak proyek hilirisasi bersifat enclave, dengan keterkaitan terbatas ke industri domestik dan penciptaan lapangan kerja yang relatif kecil dibanding nilai investasinya,” sebut Yusuf.
Di sisi lain, ruang ekspansi hilirisasi, khususnya pada smelter nikel, juga mulai menunjukkan tanda kejenuhan. Kondisi ini menuntut diversifikasi investasi ke komoditas lain agar pertumbuhan tetap terjaga. Tanpa diversifikasi, risiko stagnasi semakin nyata.
Tekanan ESG dan Standar Global
Tekanan juga datang dari faktor eksternal, terutama meningkatnya standar lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) global. Investor kini makin selektif dalam menanamkan modal. Proyek hilirisasi harus mampu memenuhi standar keberlanjutan yang lebih tinggi jika ingin tetap kompetitif.
“Dalam situasi global yang tidak stabil, faktor-faktor ini akan makin diperhitungkan oleh investor,” imbuh Yusuf.
Oleh karena itu, evaluasi kebijakan menjadi krusial. Fokus tidak bisa lagi hanya pada besaran investasi. Pemerintah harus mulai melihat kualitasnya: berapa besar nilai tambah yang tercipta, seberapa dalam integrasi ke industri domestik, dan seberapa besar dampaknya terhadap penyerapan tenaga kerja.
Insentif Fiskal dan Reformasi Kelembagaan
Yusuf menambahkan bahwa insentif fiskal juga harus benar-benar kompetitif secara regional, terutama dalam konteks standar pajak global yang baru. Pada saat yang sama, komitmen aksesi ke OECD membawa konsekuensi reformasi kelembagaan yang tidak ringan. Kesiapan implementasi menjadi kunci agar Indonesia tidak kehilangan momentum.
Dalam konteks global, dinamika geopolitik turut menambah tekanan. Kenaikan biaya energi dan volatilitas nilai tukar dapat menunda realisasi investasi, terutama untuk proyek dengan tingkat keekonomian yang tipis. Setiap fluktuasi kecil bisa berdampak besar pada kelangsungan proyek.
Peluang di Tengah Ketidakpastian
Kendati demikian, Yusuf melihat masih ada peluang di tengah ketidakpastian tersebut. Indonesia dapat menjadi alternatif tujuan investasi ketika pelaku global mencari negara dengan stabilitas relatif lebih baik.
“Indonesia bisa menjadi salah satu tujuan alternatif, terutama untuk investasi sektor riil,” tambahnya.
Lebih lanjut, Yusuf berpendapat prospek investasi tahun ini secara umum sangat bergantung pada dua hal: seberapa dalam tekanan eksternal berlangsung dan seberapa cepat respons domestik dilakukan. Dalam skenario moderat, realisasi investasi masih bisa berada di kisaran Rp1.950 triliun hingga Rp2.050 triliun.
“Artinya target bisa tercapai, tetapi dengan margin yang tipis. Jika tekanan global meningkat, ada risiko deviasi ke bawah. Sebaliknya, jika stabilitas terjaga dan reformasi berjalan efektif, ada ruang untuk melampaui target,” tutur Yusuf.
Editor: Rico Ananda
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Periksa Pelapor Feri Amsari dengan 20 Pertanyaan soal Dugaan Hoaks Swasembada Pangan
Fadli Zon Dorong Kemitraan Strategis Indonesia-Prancis di Bidang Kebudayaan
Pemerintah Luncurkan Program Bedah 15.000 Rumah di 17 Provinsi Perbatasan
Tsaqib dan Adhisty Zara Jadi Sorotan Usai Isu Kehamilan Tak Terverifikasi