Amnesty International Terbitkan Peringatan Perjalanan Piala Dunia 2026, Soroti Risiko Kebijakan Imigrasi AS

- Jumat, 24 April 2026 | 07:50 WIB
Amnesty International Terbitkan Peringatan Perjalanan Piala Dunia 2026, Soroti Risiko Kebijakan Imigrasi AS
PARADAPOS.COM - Amnesty International bersama puluhan organisasi hak sipil Amerika Serikat menerbitkan “Panduan Perjalanan Piala Dunia” pada Kamis, 23 April 2026, sebagai peringatan bagi calon pengunjung. Panduan ini menyoroti meningkatnya praktik otoritarianisme dan eskalasi kekerasan yang dikaitkan dengan kebijakan imigrasi agresif Presiden Donald Trump. Diterbitkan di tengah persiapan turnamen sepak bola global yang akan digelar di tiga negara, dokumen ini mendesak adanya jaminan konkret yang hingga kini tak kunjung muncul dari FIFA, pemerintah kota tuan rumah, maupun pemerintah pusat AS.

Kekhawatiran atas Penegakan Imigrasi dan Hak Sipil

Koalisi lembaga swadaya masyarakat itu menilai situasi hak asasi manusia di Amerika Serikat terus memburuk. Dalam panduan setebal puluhan halaman tersebut, para wisatawan diingatkan tentang sejumlah risiko serius. Mulai dari penolakan masuk secara sewenang-wenang, penahanan dalam kondisi yang dinilai tidak manusiawi, hingga pemeriksaan invasif terhadap ponsel dan akun media sosial. Laporan itu juga mencatat lonjakan operasi imigrasi di kota-kota besar seperti Los Angeles, Chicago, dan Minneapolis. Operasi ini, menurut koalisi, memicu tuduhan profil rasial serta penindasan dengan kekerasan terhadap aksi protes damai. Suasana di lapangan, menurut sejumlah aktivis yang dihubungi, semakin mencekam dengan meningkatnya patroli bersenjata di lingkungan imigran.

Reaksi Industri Pariwisata: Tudingan Taktik Politik

Langkah Amnesty International ini langsung menuai kecaman dari otoritas pariwisata. Mereka menuding kelompok hak asasi manusia itu mempertaruhkan mata pencaharian pekerja industri jasa demi agenda politik tertentu. Presiden dan CEO U.S. Travel Association, Geoff Freeman, mengakui adanya kekhawatiran publik terhadap kebijakan pintu masuk AS. Namun, ia menilai peringatan tersebut terlalu berlebihan. “Gagasan bahwa mengunjungi Amerika menimbulkan risiko keamanan yang berarti bukanlah peringatan dengan niat baik, melainkan taktik politik yang dirancang untuk menimbulkan kerugian ekonomi,” tegas Freeman dalam pernyataan resminya. Ia menambahkan bahwa tahun lalu tercatat 67 juta wisatawan mancanegara berkunjung ke AS. Angka ini, menurutnya, membuktikan bahwa negeri itu tetap menjadi tujuan utama meskipun ada kekhawatiran.

FIFA dan Ketidakpastian di Pasar Pariwisata

Menanggapi situasi ini, juru bicara FIFA hanya merujuk pada dokumen tata kelola federasi yang menekankan komitmen terhadap hak asasi manusia. “FIFA berkomitmen untuk menghormati semua hak asasi manusia yang diakui secara internasional dan akan berupaya mempromosikan perlindungan hak-hak tersebut,” ungkap juru bicara tersebut melalui pernyataan tertulis. Pernyataan itu tidak memberikan jaminan tambahan yang diminta oleh koalisi LSM. Sementara itu, angka pelancong internasional ke AS terus menurun sejak Trump kembali ke Gedung Putih. Sejumlah pernyataan kontroversial sang presiden—termasuk soal sekutu AS, wacana klaim atas Greenland, hingga kebijakan larangan perjalanan bagi warga dari 19 negara—telah menyuntikkan ketidakpastian mendalam di sektor pariwisata. Pemerintah AS kini bertaruh bahwa percepatan pemrosesan visa dan antusiasme turnamen akan mampu meredam kekhawatiran publik. Namun, banyak pengamat meragukan efektivitas langkah ini mengingat kebijakan imigrasi yang dianggap bertolak belakang dengan semangat persatuan global Piala Dunia. Turnamen akbar ini dijadwalkan akan dimulai pada 11 Juni mendatang. Pertandingan akan tersebar di 11 stadion di Amerika Serikat, dua di Kanada, dan tiga di Meksiko. Dengan waktu yang semakin dekat, tekanan terhadap semua pihak untuk memberikan kepastian hukum dan keamanan bagi pengunjung pun semakin besar.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar