PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia mengonfirmasi telah mengamankan komitmen impor minyak mentah (crude) dari Rusia sebanyak 150 juta barel. Kesepakatan ini merupakan hasil pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Moskow, yang kemudian dipertegas dalam pertemuan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan Menteri Energi Rusia Sergei Tsivilev. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menyatakan bahwa impor akan dilakukan secara bertahap untuk menyesuaikan dengan kapasitas penyimpanan dalam negeri, dengan target pemenuhan kebutuhan hingga akhir tahun.
Skema Impor Bertahap dan Regulasi yang Disiapkan
Menurut Yuliot, impor minyak mentah ini tidak akan dilakukan sekaligus. Alasannya, pelaksanaannya membutuhkan kapasitas penyimpanan yang besar di dalam negeri. Saat ini, pemerintah bersama badan usaha tengah mempersiapkan regulasi dan mekanisme impor.
“Negosiasi kemarin sudah disepakati total impor crude dari Rusia 150 juta barel, untuk mencukupi kebutuhan kita sampai akhir tahun,” ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4).
Regulasi yang tengah digodok akan menentukan apakah impor dilakukan langsung oleh BUMN atau melalui Badan Layanan Umum (BLU). Yuliot menjelaskan, kedua opsi ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika melalui BUMN, ada konsekuensi terkait kontrak yang sudah ada. Sementara jika melalui BLU, ada kemudahan, terutama dalam hal pembiayaan.
“Kalau BUMN kan sudah ada kontrak dengan pihak lain untuk pemenuhan dalam negeri. Di BUMN juga harus melalui tender, (tapi impor ini) skemanya G2G,” jelasnya.
Alokasi Pasokan untuk Industri dan Kebutuhan Domestik
Yuliot menambahkan, minyak mentah dari Rusia nantinya tidak hanya akan diserap oleh Pertamina. Pasokan ini juga akan dialokasikan untuk industri, bahan baku petrokimia, dan kegiatan pertambangan. Harga impor tersebut akan mengikuti mekanisme pasar.
Ia memaparkan, kebutuhan konsumsi minyak Indonesia mencapai 1,6 juta barel per hari (bph). Dari jumlah tersebut, 600 ribu bph dipenuhi dari produksi domestik, sedangkan sisanya 1 juta bph berasal dari impor. Dengan perhitungan hingga akhir 2026, masih tersisa 251 hari, yang berarti Indonesia masih membutuhkan impor 251 juta barel. Dari kebutuhan itu, 150 juta barel akan dipasok dari Rusia.
“Ini bisa dikalkulasikan masih kurang, kami saat ini juga mencari tambahan dari negara lain termasuk Amerika Serikat,” ungkapnya.
Selain minyak mentah, Indonesia juga berpotensi mendapatkan pasokan LPG (liquified petroleum gas) atau elpiji dari Rusia. Namun, untuk komoditas ini, belum ada perincian lebih lanjut mengenai volumenya.
Potensi Pengiriman Bulan Ini
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyebutkan bahwa minyak mentah impor dari Rusia kemungkinan akan dikirim ke Indonesia mulai bulan ini. Ia menegaskan bahwa pemerintah menargetkan agar komoditas tersebut bisa tiba secepatnya.
“Insyaallah kalau untuk crude mungkin bisa (dikirim) bulan ini,” kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Jumat (17/4) pekan lalu.
Bahlil menuturkan, langkah ini diambil karena kondisi geopolitik dunia yang tidak menentu. Menurutnya, Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan pasokan dari satu negara saja. Diversifikasi sumber pasokan menjadi kunci untuk menjaga ketahanan energi nasional.
“Kita tidak bisa mengharapkan (pasokan) hanya dari satu negara, harus ada diversifikasi. Insyaallah (stok) crude kita akan semakin baik,” ujarnya.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Atlet Paralimpiade Ni Nengah Widiasih Buka Rumah Makan Babi Guling di Denpasar
Wakil Bupati Banyuasin Hadiri Sultan Muda Xpora 2026, Dorong Ekspor Pakan Hewan ke Filipina
Mendagri Dorong Pemda Terapkan Pembiayaan Kreatif di Tengah Keterbatasan Fiskal
Ombudsman Awasi Kematian Bayi 14 Bulan yang Telantar di IGD RSUP Padang