PARADAPOS.COM - Ketegangan di Lebanon selatan kembali memuncak setelah militer Israel melanjutkan serangan udara dan artileri secara masif, melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sempat disepakati sebelumnya. Hingga April 2026, data terbaru mencatat jumlah korban jiwa telah mencapai 2.483 orang, sementara lebih dari 7.707 warga sipil mengalami luka-luka sejak awal Maret 2026. Serangan terberat dilaporkan terjadi di kota Kamaa dan sejumlah titik strategis di wilayah selatan Lebanon, memicu respons balasan dari kelompok perlawanan Hizbullah.
Korban Sipil Berjatuhan, Anak-Anak Jadi Sasaran
Serangan udara Israel tidak hanya menyasar infrastruktur militer, tetapi juga kawasan pemukiman padat penduduk. Di Distrik Nabatieh, tiga warga Lebanon tewas dalam satu serangan, dan dua di antaranya adalah anak-anak. Peristiwa ini menambah daftar panjang tragedi kemanusiaan yang terjadi di tengah konflik terbuka antara Israel dan kelompok perlawanan di Lebanon.
Sementara itu, di kota Yater, Distrik Bint Jbeil, tembakan artileri berat menghantam permukiman warga. Puluhan warga sipil dilaporkan menderita luka-luka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat dalam kondisi kritis. Kondisi medis di lapangan semakin terbatas akibat terus memburuknya akses bantuan kemanusiaan.
Hizbullah Balas dengan Serangan Drone
Menanggapi pelanggaran gencatan senjata yang terus berulang, Hizbullah akhirnya mengambil tindakan militer pada Kamis, 23 April 2026. Kelompok perlawanan itu menyerang posisi pasukan Zionis di Desa Taybeh menggunakan drone dan berbagai jenis senjata tambahan.
“Langkah ini diambil sebagai bentuk pembalasan atas pelanggaran kesepakatan yang dilakukan oleh pihak Israel,” demikian pernyataan resmi dari pihak Hizbullah. Mereka menegaskan bahwa serangan balasan tersebut merupakan respons proporsional terhadap agresi yang terus berlangsung di wilayah selatan Lebanon.
AS Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata
Di tengah eskalasi yang kian panas, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa masa gencatan senjata sepuluh hari yang saat ini berlaku antara Israel dan Lebanon akan diperpanjang selama tiga pekan ke depan. Langkah ini diambil sebagai upaya meredakan ketegangan dan memberi ruang bagi negosiasi diplomatik yang lebih substansial.
Namun, hingga pengumuman tersebut disampaikan, situasi di lapangan masih menunjukkan ketidakstabilan. Serangan sporadis masih terdengar di beberapa titik, dan warga sipil terus menjadi pihak yang paling dirugikan. Belum ada kepastian apakah perpanjangan gencatan senjata ini akan benar-benar dihormati oleh semua pihak di medan perang.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Satpam Perumahan Kota Wisata Bogor Dikeroyok Usai Tolak Dimintai Uang untuk Beli Miras
Taiwan untuk Pertama Kalinya Ikut Pameran IIES 2026 di Indonesia, Usung Tema TAIWAN SELECT
BNN Amankan 10 WNI di Bandara Soetta Usai Terbang dari Bangkok, Positif Narkoba
KM Labobar Kembali Berlayar, Hubungkan Jawa-Papua Mulai 11 Juni 2026