PARADAPOS.COM - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti maraknya hoaks seputar vaksinasi yang kian meluas di era media sosial. Ketua Pengurus Pusat IDAI, Piprim Basarah Yanuarso, mengungkapkan bahwa informasi palsu ini menjadi penyebab utama keraguan orang tua terhadap imunisasi anak. Fenomena ini bahkan telah berlangsung sejak 15 tahun lalu dan kini diperparah oleh kecepatan penyebaran informasi di platform digital. Akibatnya, sejumlah wilayah di Indonesia kembali menghadapi Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit seperti campak dan polio, yang seharusnya dapat dicegah dengan vaksin.
Media Sosial: Antara Edukasi dan Disinformasi
Dalam keterangannya, Piprim menjelaskan bahwa media sosial memiliki dua sisi yang kontras. Di satu sisi, platform ini sangat membantu dalam menyebarkan edukasi yang benar tentang vaksinasi. Namun di sisi lain, kecepatan penyebaran informasi justru menjadi tantangan besar ketika hoaks dan mitos ikut beredar tanpa kendali.
"Salah satu yang membuat orang ragu-ragu terhadap imunisasi adalah banyaknya mitos atau hoaks yang beredar luas, apalagi di era media sosial ini," kata Piprim.
Ia menambahkan bahwa informasi yang salah ini mendorong masyarakat, khususnya para orang tua, menjadi ragu dan akhirnya memutuskan untuk tidak mengizinkan anak mereka mengikuti imunisasi.
Dampak Nyata di Lapangan
Situasi di Indonesia saat ini menjadi bukti nyata dari dampak hoaks tersebut. Beberapa wilayah terpaksa kembali menghadapi KLB penyakit yang seharusnya bisa dicegah. Piprim mencontohkan bahwa vaksin sebenarnya sudah disiapkan, tersedia, dan bahkan gratis di posyandu atau puskesmas.
"Sebetulnya vaksinnya sudah disiapkan, sudah ada dan gratis di posyandu atau puskesmas. Namun, apabila orang tua masih ragu, menjadi galau, karena terlalu banyak mitos yang dia percayai dan ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan anak-anak kita," ujarnya.
Menurut dia, anak-anak yang tidak divaksin berisiko lebih tinggi terkena penyakit secara berulang. Kondisi ini bisa berujung pada stunting, cacat, hingga kematian, tergantung dari jenis penyakit yang diderita.
Perlindungan Lebih dari Sekadar Mencegah Penyakit
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, Rodman Tarigan, menambahkan bahwa vaksinasi memiliki manfaat yang lebih luas. Selain mencegah penyakit, vaksinasi juga melindungi penerima dari infeksi berulang yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak.
"Vaksinasi dapat mencegah kematian serta meningkatkan harapan hidup penerimanya," jelas Rodman.
Ia mengakui bahwa mitos dan hoaks akan selalu ada mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan maupun teknologi. Oleh karena itu, diperlukan narasi dan literasi yang mudah dipahami tentang imunisasi di berbagai kalangan.
Peran Media dalam Meluruskan Informasi
Rodman menekankan bahwa media memiliki peran yang sangat penting dalam situasi ini. Menyampaikan fakta yang benar dan mudah dicerna menjadi kunci untuk melawan arus disinformasi.
"Dalam hal ini media memiliki peran penting untuk menyampaikan fakta tentang imunisasi," pungkasnya.
Dengan pendekatan yang tepat, diharapkan keraguan orang tua dapat berkurang dan angka cakupan imunisasi kembali meningkat demi melindungi generasi mendatang.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Timnas U17 Indonesia Kalahkan China 1-0, Raih Tiga Poin Perdana di Piala Asia U17 2026
Tim SAR Temukan Pria 60 Tahun Tertimbun Longsor di Dramaga Bogor dalam Kondisi Meninggal
Pemerintah Wajibkan Devisa Ekspor SDA Ditempatkan di Himbara dan Dikonversi ke Rupiah Mulai Juni 2026
Polresta Bogor Bekuk Dua WN China Komplotan Pencuri Rumah Mewah Bermasker Messi, Kerugian Capai Rp1 Miliar