Royal Dinner Mangkunegaran Sajikan Filosofi Keprajuritan dalam Tujuh Hidangan di Peringatan ke-269

- Selasa, 05 Mei 2026 | 23:00 WIB
Royal Dinner Mangkunegaran Sajikan Filosofi Keprajuritan dalam Tujuh Hidangan di Peringatan ke-269
PARADAPOS.COM - Sekitar 150 tamu undangan dari berbagai kalangan menghadiri Royal Dinner dalam rangkaian peringatan Adeging Mangkunegaran ke-269. Acara yang berlangsung di Pendopo Mangkunegaran, Surakarta, Jawa Tengah, akhir pekan lalu ini dihadiri oleh KGPAA Mangkunegara IX, GRAJ Ancillasura Marina Sudjiwo, Respati Ardianto, Meliza M. Rusli, Nico Tahir, Aditya Bayu Nanda, hingga mantan Menteri Keuangan Agus Martowardojo. Perjamuan malam itu bukan sekadar santapan mewah, melainkan sebuah perjalanan filosofis yang mengangkat tema keprajuritan dan penempaan diri.

Malam Kebersamaan di Pendopo

Suasana hangat terasa di Pendopo Mangkunegaran saat para tamu mulai berdatangan. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IX, yang akrab disapa Gusti Bhre, menyambut langsung para undangan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa malam itu adalah momen kebersamaan dan kebahagiaan. “Terima kasih selamat menikmati makan malamnya dan tentunya saya mewakili seluruh keluarga, terima kasih dan selamat menikmati kebersamaan,” ujar Gusti Bhre. Ia pun mengungkapkan rasa syukur. Menurutnya, semua pilihan yang telah membuktikan kerja keras dan saling mendukung mampu menciptakan dampak positif serta keberlanjutan bagi Mangkunegaran.

Tahun Dal: Fase Penempaan Diri

Gusti Raden Ajeng Ancillasura Marina Sudjiwo, yang kerap disapa Gusti Sura, memberikan perspektif menarik mengenai pemilihan tema tahun ini. Ia menjelaskan bahwa Adeging Mangkunegaran tahun ini jatuh pada Tahun Dal dalam siklus Windu Jawa. “Ini kami wujudkan dalam tema keprajuritan yang bisa teman-teman lihat di sini. Mangkunegaran melambangkan ini semua dengan ikon kuda,” kata Gusti Sura di Pamedan Mangkunegaran. Dalam filosofi Jawa, Tahun Dal bukanlah sekadar penanggalan. Ia merupakan fase penempaan diri. Ibarat seekor kuda pilihan, ketangkasan tidak lahir begitu saja, melainkan dibentuk melalui disiplin dan latihan yang teguh. Kuda menjadi simbol manusia yang tahu kapan harus melesat cepat dan kapan harus tenang mengamati tujuan.

Perjalanan Rasa dalam Tujuh Hidangan

Royal Dinner kali ini menyajikan tujuh rangkaian hidangan yang sarat makna. Setiap menu dirancang untuk mengajak tamu menyelami filosofi Legiun Mangkunegaran. Perjalanan dimulai dengan canape savory bernama Sosis Solo Deconstructed. Sebagaimana kavaleri yang melesat cepat, hidangan ini hadir lugas dengan crispy crepe hasil teknik dehidrasi yang membungkus ayam rempah santan kental. Ia melambangkan langkah awal yang terarah. Memasuki menu pembuka, Dendeng Age Buntel hadir dengan rupa menyerupai tapal kuda besi yang sedang dipanaskan. Daging cincang berempah yang dibungkus lemak jala ini menjadi simbol disiplin dan batasan ketat bagi prajurit Legiun. Puncak narasi malam itu tertuang dalam hidangan utama: Slow Cooked Beef Sauce Kluwek. Beef Short Ribs yang dimasak sous-vide selama 48 jam menjadi metafora penempaan yang sempurna. Daging yang semula keras menjadi lembut karena waktu dan suhu yang tepat, konsisten seperti langkah kuda yang terarah menuju tujuan bermakna. Saus kluwek yang hitam dan pekat melambangkan fase penempaan diri yang keras, tetapi kaya akan makna. Sebagai penutup siklus, hadir Mousse Tape Singkong. Menggunakan bahan dasar rakyat yang naik kelas, hidangan ini melambangkan kerendahan hati seorang ksatria. Tekstur mousse yang ringan dipadukan dengan meringue jahe dan coulis nangka memberikan ruang tenang untuk refleksi atas segala ketekunan yang telah dijalani. Royal Dinner Mangkunegaran bukanlah sekadar perjamuan tentang rasa. Ia merupakan penghormatan terhadap sejarah, disiplin, dan langkah yang tak pernah goyah.

Editor: Andri Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar