Prancis Ancam Pertahankan Sanksi ke Iran Selama Selat Hormuz Masih Diblokade

- Kamis, 07 Mei 2026 | 15:25 WIB
Prancis Ancam Pertahankan Sanksi ke Iran Selama Selat Hormuz Masih Diblokade
PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, dengan tegas menyatakan bahwa negaranya tidak akan mencabut sanksi terhadap Iran selama Selat Hormuz masih dalam kondisi diblokade. Pernyataan ini disampaikan Barrot dalam wawancara dengan stasiun televisi Prancis RTL pada Kamis (7/5/2026), menegaskan posisi Paris yang tidak akan menoleransi penggunaan jalur pelayaran strategis tersebut sebagai alat tekanan politik. Ia menyerukan pembukaan kembali selat itu demi kepentingan bersama umat manusia.

Sanksi Tidak Akan Dicabut Selama Blokade Berlangsung

Dalam wawancara tersebut, Barrot menjelaskan bahwa Prancis telah menjatuhkan sanksi signifikan terhadap Iran. Namun, ia menekankan tidak mungkin sanksi apa pun dicabut selama selat seperti Selat Hormuz masih diblokir. “Kami sendiri telah memberlakukan sanksi signifikan terhadap Iran. Tetapi tidak mungkin sanksi apa pun dicabut selama selat seperti Selat Hormuz masih diblokir,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembukaan kembali selat tersebut sebaiknya dilakukan sesegera mungkin. Menurutnya, hal itu merupakan “kebaikan bersama umat manusia.” “Hal itu tidak dapat diblokir, dikenakan biaya tol, atau digunakan sebagai alat tawar-menawar atau pemerasan,” lanjut Barrot.

Seruan untuk Kemandirian Energi Eropa

Di luar isu blokade, Barrot juga menyoroti perlunya Eropa melepaskan diri dari berbagai bentuk ketergantungan eksternal. Ia menegaskan bahwa Prancis harus memastikan agar tidak kembali berada dalam situasi yang membuat mereka menanggung konsekuensi dari perang yang tidak mereka pilih. “Itulah mengapa kita harus fokus pada bagaimana Eropa dapat melepaskan diri dari semua ketergantungan pada hidrokarbon dan minyak, tidak lagi bergantung pada minyak, tidak lagi bergantung pada teknologi digital,” tegasnya. Ia kemudian mempertegas pesan tersebut dengan pernyataan yang lebih luas. “Singkatnya, tidak lagi bergantung pada hal-hal yang, dengan satu atau lain cara, menyeret kita ke dalam konflik, bencana, dan krisis di mana kita bukanlah peserta,” tambah Barrot.

Kecaman atas Serangan terhadap Kapal Sipil

Dalam kesempatan yang sama, Barrot juga mengecam serangkaian serangan yang terjadi belakangan ini terhadap kapal milik perusahaan pelayaran Prancis CMA CGM, sejumlah kapal lainnya, dan infrastruktur energi di Uni Emirat Arab (UEA) yang diduga menjadi sasaran Iran. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat diterima dan patut untuk dikutuk. “Semua serangan terhadap infrastruktur sipil patut dikecam,” ujarnya. Meski demikian, Barrot menegaskan bahwa Prancis bukan target langsung dalam serangan terhadap kapal CMA CGM. Ia menjelaskan bahwa kapal itu berlayar di bawah bendera Malta dan diawaki oleh kru asal Filipina. “Secara tegas, itu bukanlah kapal Prancis, karena berlayar di bawah bendera Malta dan awak kapalnya adalah orang Filipina,” pungkasnya.

Editor: Joko Susilo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar