PARADAPOS.COM - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah telah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) sejak pekan lalu demi menstabilkan nilai tukar rupiah. Langkah ini diambil dengan cara membeli kembali surat utang negara yang dilepas oleh investor. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers APBN KiTa edisi Mei 2026 di Jakarta, Selasa (19/5/2026). Purbaya menegaskan bahwa mekanisme ini berbeda dari kerangka stabilisasi obligasi atau bond stabilization framework (BSF) yang biasanya digunakan saat krisis.
Intervensi Fiskal untuk Redam Tekanan Rupiah
Menurut penjelasannya, otoritas fiskal sudah mulai bergerak sejak Rabu, 13 Mei 2026. Purbaya mengklaim langkah ini terbukti efektif mendorong kembali aliran modal asing masuk ke pasar SBN. Salah satu contoh nyata yang ia sebut adalah lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) atau sukuk yang berlangsung pada hari yang sama dengan konferensi pers.
"Memang kami masuk seperti itu, kalau ada yang jual kami beli. Ada yang jual kami beli," ujarnya di hadapan awak media.
Ia menambahkan bahwa strategi ini juga berhasil menurunkan tingkat imbal hasil atau yield SBN yang sempat mengalami kenaikan. Purbaya menyebutkan, yield SBN pemerintah tenor 10 tahun turun 4 basis poin, sementara untuk tenor 5 tahun turun lebih signifikan, yakni 10 basis poin.
Alokasi Harian Rp2 Triliun dan Respons Pasar
Mantan Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) ini mengaku telah memerintahkan dua unit di bawah Kementerian Keuangan untuk bergerak. Dua unit tersebut adalah Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) serta Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb). Masing-masing diminta mengalokasikan dana sebesar Rp2 triliun setiap harinya untuk membeli kembali surat utang negara yang dijual investor.
Meski demikian, Purbaya mengungkapkan bahwa tekanan jual dari investor ternyata tidak sebesar yang diperkirakan.
"Saya minta mereka masuk setiap hari Rp2 triliun. Kalau ada [yang jual], ternyata yang jual sedikit, banyak yang nahan juga tuh," paparnya.
Ia juga memastikan bahwa aksi beli ini bukanlah pembelian putus atau buy-and-hold. Purbaya menjelaskan, surat utang yang dibeli kembali tidak akan dipegang terus menerus oleh pemerintah.
Sumber Dana dan Kepercayaan Diri Pemerintah
Meski tidak merinci secara detail sumber dana yang digunakan untuk intervensi, Purbaya memastikan bahwa pemerintah memiliki kecukupan likuiditas. Salah satu indikator yang ia sebut adalah meningkatnya Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang saat ini mencapai Rp435 triliun.
"SAL kami Rp435 triliun. Jadi nafas saya panjang," pungkasnya singkat.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan keyakinan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah gejolak nilai tukar. Dengan modal tersebut, otoritas fiskal merasa memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk terus melakukan intervensi jika diperlukan.
Editor: Joko Susilo
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Akan Sampaikan Langsung Kerangka Ekonomi Makro dan Kebijakan Fiskal APBN 2027 di Sidang Paripurna DPR
Analis Peringatkan Pemerintah soal Ancaman Sistematis yang Bisa Ganggu Stabilitas Politik
Polda Jateng Tetapkan Perempuan Berinisial L sebagai Terduga Pelaku Lomba Komentar Rasis, Anak Perwira Polisi
Peternak Unggas Terhimpit Biaya Produksi Melonjak, Harga Jual Anjlok