PARADAPOS.COM - Hani Hanifa Humanisa (56), ibu dari jurnalis Republika Thoudy Badai Rifanbillah (29), mengaku tak menyangka putranya menjadi korban dugaan penculikan oleh tentara Israel. Peristiwa ini terjadi saat Thoudy mengikuti misi kemanusiaan bersama Global Sumud Flotilla (GSF) menuju Gaza, di mana kapal yang ditumpanginya dicegat di perairan internasional pada Senin, 18 Mei 2026. Warga Cicalengka, Kabupaten Bandung, ini masih berharap pada upaya diplomasi pemerintah setelah komunikasi dengan putranya terputus.
Syok Menerima Kabar Penculikan
Hanifa mengaku syok saat mengetahui Thoudy—yang akrab disapa Odi—diduga ditahan militer Israel. Odi berada di atas Kapal Ozgurluk bersama relawan dan jurnalis internasional lainnya saat rombongan bantuan kemanusiaan itu dicegat di Laut Siprus.
“Awalnya permintaan izin ini sebenarnya yang kedua. Yang pertama itu saat Odi berangkat ke Tunis untuk mengikuti pelatihan. Dari sana memang ada kemungkinan lanjut ke Gaza jika mendapat izin dari orang tua. Tapi waktu itu saya belum mengizinkan, karena kekhawatiran yang sangat besar melihat kondisi di sana,” ujarnya saat ditemui di Pondok Pesantren Husainiyah, Cicalengka, Selasa, 19 Mei 2026.
Hanifa menceritakan bahwa keputusan mengizinkan putranya berangkat bukanlah hal mudah. Ia melihat adanya tekad kuat dari Odi untuk menjalankan tugas jurnalistiknya.
“Saya melihat ada passion dari Odi. Sebagai ibu tentu sisi keibuan saya ingin bilang jangan ikut, enggak usah berangkat. Tapi saya juga berpikir, anak-anak saya jangan hidup hanya untuk orang tuanya atau keluarganya saja. Mereka juga harus hidup untuk dirinya sendiri,” katanya.
Diskusi Panjang Sebelum Keberangkatan
Sebelum Odi berangkat, Hanifa dan putranya sempat berdiskusi panjang mengenai berbagai risiko yang mungkin terjadi selama perjalanan menuju Gaza.
“Kami ngobrol panjang. Saya tanya bagaimana kondisi di sana, apa risikonya. Odi juga sudah memahami risiko terburuknya seperti apa. Setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya saya izinkan,” tuturnya.
Komunikasi terakhir antara Hanifa dan Odi terjadi pada Senin dini hari, sekitar pukul 02.19 WIB. Saat itu, Odi mengabarkan bahwa kapal sudah memasuki perairan internasional dan kondisi masih aman.
“Terakhir kami kontak hari Senin sekitar pukul 02.19 WIB. Saat itu Odi mengabarkan mereka sudah sampai di perairan internasional dan kondisi masih aman,” ungkapnya.
Selama perjalanan, Odi rutin memberikan kabar mengenai kondisi di kapal, mulai dari kesehatan hingga keamanan. Namun, setelah insiden pencegatan tersebut, kontak pun terputus. Hingga berita ini diturunkan, Thoudy masih dalam status hilang kontak bersama enam WNI lainnya yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Prabowo Sebut Gaji Guru dan ASN Kecil Akibat Kebocoran Negara Lewat Underinvoicing
Telkom Isyaratkan Dividen 2025 Tak Lebih Kecil dari Tahun Sebelumnya
Polisi Musnahkan 200 Kg Ganja Hasil Pengungkapan Ladang 20 Hektar di Empat Lawang
Prabowo Ungkap Underinvoicing Sebabkan Gaji Guru dan ASN Kecil, Negara Rugi Rp5.300 Triliun