PARADAPOS.COM - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, telah mengidentifikasi sejumlah desa yang rentan mengalami kekeringan selama musim kemarau tahun ini. Fenomena tersebut diprediksi akan mencapai puncaknya pada periode Agustus hingga November 2026, dengan potensi dampak yang lebih luas dibandingkan tahun sebelumnya. Desa-desa rawan itu tersebar di enam kecamatan, meliputi Tegalwaru, Pangkalan, Telukjambe Barat, Karawang Timur, Ciampel, dan Klari.
Enam Kecamatan Masuk Zona Rawan
Berdasarkan data yang dihimpun dari lapangan, wilayah yang paling diwaspadai adalah Kecamatan Tegalwaru. Di sana, terdapat tujuh desa yang masuk kategori rawan kekeringan, yakni Cintalanggeng, Kutamaneuh, Cigunungsari, Cintalaksana, Kutalanggeng, Cintawargi, dan Cipurwasari. Sementara itu, di Kecamatan Pangkalan, potensi serupa mengintai delapan desa: Cintaasih, Kertasari, Medalsari, Jatilaksana, Tamanmekar, Ciptasari, Mulangsari, dan Tamansari.
Di wilayah pesisir dan perkotaan, Kecamatan Klari memiliki satu titik rawan, yaitu Desa Curug. Sedangkan di Kecamatan Ciampel, dua desa yang patut diwaspadai adalah Parungmulya dan Mulyasejati. Selanjutnya, Desa Palumbonsari di Kecamatan Karawang Timur juga masuk dalam daftar pantauan. Untuk Kecamatan Telukjambe Barat, kekeringan berpotensi melanda Desa Wanakerta dan Margakaya.
Puncak Kemarau dan Potensi Perluasan Dampak
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ferry Muharam, menyampaikan bahwa saat ini musim kemarau sudah mulai berlangsung. Meskipun dalam beberapa waktu sempat turun hujan, pihaknya tetap waspada terhadap prediksi puncak kemarau yang lebih panjang.
"Ada sejumlah daerah yang berpotensi kekeringan, sebagai dampak dari kemarau panjang di tahun ini," ungkapnya.
Ferry juga menambahkan bahwa potensi kekeringan diprediksi akan meluas hingga ke Kecamatan Telukjambe Timur dan Cilamaya Wetan. “Kemungkinan tahun ini kemarau diprediksi lebih panjang, jadi berpotensi semakin meluas daerah yang terdampak," ujarnya.
Koordinasi Lintas Sektor untuk Antisipasi
Hingga saat ini, BPBD Karawang masih melakukan pemantauan secara intensif untuk mengukur luas wilayah yang benar-benar terdampak. Tidak hanya itu, koordinasi dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan setempat terus digencarkan. Langkah ini dinilai krusial karena dampak kekeringan tahun lalu tidak hanya menyasar ketersediaan air bersih, tetapi juga sektor pertanian.
“Dampaknya tahun lalu lebih banyak ke sektor pertanian, bukan hanya kekurangan air bersih. Jadi untuk antisipasi kekeringan pada musim kemarau tahun ini, kami terus berkoordinasi dengan Dinas Pertanian," jelasnya.
Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah penyediaan pompa air. Alat ini nantinya akan digunakan untuk membantu irigasi sawah-sawah yang terancam gagal panen akibat kekeringan. Dengan koordinasi yang ketat, diharapkan penanganan lahan pertanian yang terdampak bisa segera teratasi sebelum kerugian semakin meluas.
Editor: Paradapos.com
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Kreator Yogyakarta Ciptakan Standar Baru Siaran Langsung TikTok dengan Teknologi Visual FX dan VJ
Pemerintah Bentuk Satgas Percepatan Transisi Energi, Proyek PLTS Terapung Saguling Ditargetkan Beroperasi November 2026
KPK Periksa 19 Pejabat Tulungagung, Dalami Aliran Dana ke Bupati Nonaktif
Aktivis Bantuan Gaza Laporkan Pelecehan Seksual dan Penyiksaan saat Dicegat Israel di Perairan Internasional