PARADAPOS.COM - Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mendorong publik untuk tetap optimis terhadap kondisi perekonomian Indonesia di tengah maraknya narasi pesimistis yang dinilai destruktif. Dalam keterangan tertulisnya pada Minggu, 24 Mei 2026, Idrus menegaskan bahwa kritik terhadap pemerintah tetap diperbolehkan, namun harus dibarengi dengan solusi dan semangat persatuan, bukan justru membuat rakyat semakin cemas.
Optimisme di Tengah Narasi Kegelapan
Idrus menyayangkan pandangan suram yang belakangan ini mendominasi pemberitaan mengenai masa depan ekonomi nasional. Menurutnya, cara pandang semacam itu terlalu disetir oleh paradigma neoliberalisme, yang hanya mengukur kesuksesan negara dari kacamata pasar bebas.
“Mari kita semua berpikir positif, Indonesia rumah besar kita yang harus dirawat bersama. Bangsa ini jangan terus-menerus disuguhi narasi kegelapan. Kritik boleh, bahkan penting dalam demokrasi. Prabowo sama sekali tidak anti-kritik. Tapi kritik harus menghadirkan sikap optimisme, solusi, dan semangat persatuan. Jangan sampai rakyat dibuat semakin cemas menghadapi keadaan,” ujar Idrus.
Ia mengingatkan bahwa Indonesia berjalan di atas rel Ideologi Pancasila sebagai jalan tengah (Wasathiyah). Ideologi ini, jelasnya, secara seimbang mengakui hak individu sekaligus melindungi kepentingan sosial rakyat banyak.
Proyek Strategis Nasional Bukan Sekadar Prestise
Menanggapi kritik yang menuding Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagai proyek prestise semata, Idrus menilai argumen tersebut lahir dari nalar yang hanya mengejar profit jangka pendek. Menurutnya, proyek infrastruktur skala makro memang harus diambil alih oleh negara melalui BUMN. Pasalnya, pihak swasta tidak akan mau menyentuh investasi dengan masa pengembalian modal yang sangat panjang.
Negara, lanjut Idrus, tidak boleh melepas hajat hidup orang banyak ke dalam pusaran mekanisme pasar bebas tanpa kontrol. Risikonya terlalu besar: memperlebar jurang ketimpangan sosial. BUMN, tegasnya, harus tetap difungsikan sebagai benteng penstabil harga energi, penyedia lapangan kerja, dan distributor keadilan ekonomi.
“Kalau semuanya dilepas ke pasar, maka yang kuat akan semakin menguasai. Negara harus hadir menjadi penyeimbang agar kesejahteraan tidak hanya dinikmati kelompok tertentu,” kata Idrus.
Fondasi Ekonomi Jangka Panjang
Idrus menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto melalui konsepsi Astacita, Indonesia justru sedang bergerak menuju kemandirian ekonomi yang berdaulat. Ia mengajak seluruh anak bangsa untuk melihat arah kebijakan pemerintah secara utuh dan objektif demi menjaga kondusivitas nasional.
Sebelumnya, Ketua Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, juga menilai kekhawatiran ekonomi yang berlebihan tidak berdasar jika merujuk pada data makroekonomi saat ini. Ia menyebut cadangan devisa nasional masih kokoh, rasio utang pemerintah aman, dan ketahanan sektor perbankan jauh lebih prima dibanding era 1998.
“Pemerintah sedang membangun fondasi ekonomi jangka panjang. Infrastruktur itu bukan proyek sesaat, tetapi instrumen untuk menurunkan biaya logistik dan memperkuat daya saing nasional,” ujar Misbakhun.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Pengembang Nakal Manipulasi Data KPR, Tenaga Ahli Kementerian PKP Sebut Ada Unsur Kesengajaan
Wakapolda Lampung Pimpin Patroli QR Presisi Skala Besar untuk Tekan Street Crime di Bandar Lampung
Hasil UTBK-SNBT 2026 Diumumkan 25 Mei Pukul 15.00 WIB, Cek di Portal Resmi dan Link Mirror PTN
Madura United Amankan Tempat di BRI Super League Usai Kalahkan PSM Makassar 2-0