PARADAPOS.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara menanggapi kasus dugaan asusila yang menimpa puluhan santriwati di sebuah padepokan di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah. Ketua MUI Bidang Pesantren, Ahmad Fahrur Rozi atau Gus Fahrur, menegaskan bahwa insiden ini telah memasuki tahap yang serius dan sangat memprihatinkan. Ia mendesak agar pelaku segera diproses hukum secara tegas untuk memberikan keadilan bagi para korban sekaligus menimbulkan efek jera.
Seruan Tegas untuk Penegakan Hukum
Dalam pernyataannya kepada Media Indonesia pada Rabu, 27 Mei 2026, Gus Fahrur menyampaikan keprihatinan mendalamnya. Ia menekankan bahwa kasus semacam ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata.
“Kasus kekerasan seksual terhadap santriwati memang sudah sangat memprihatinkan dan harus menjadi alarm serius bagi semua lembaga pendidikan, termasuk pesantren. Pelaku harus diproses hukum secara tegas demi keadilan korban dan efek jera,” ungkap Gus Fahrur.
Pencegahan Sistematis di Lingkungan Pesantren
Lebih lanjut, Gus Fahrur mendorong adanya langkah pencegahan yang lebih terstruktur. Menurutnya, pengawasan di lingkungan pesantren perlu diperketat secara menyeluruh. Ia juga menyoroti pentingnya membangun mekanisme pengaduan yang aman dan nyaman bagi para santri, sehingga mereka tidak ragu untuk melapor jika mengalami tindakan tidak menyenangkan.
Di samping itu, seleksi dan pembinaan terhadap pengasuh serta tenaga pendidik harus dilakukan secara ketat dan berkelanjutan. Edukasi tentang perlindungan anak dan bahaya kekerasan seksual juga dinilai sebagai elemen krusial yang wajib diberikan secara rutin.
Pesantren sebagai Benteng Akhlak
Gus Fahrur mengingatkan kembali fungsi ideal pesantren. Menurut dia, lembaga pendidikan Islam ini sejatinya adalah tempat untuk membangun akhlak mulia dan menjaga martabat manusia. Oleh karena itu, ia meminta masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih tempat menimba ilmu.
“Karena itu masyarakat harus selektif dalam memilih kyai dan pesantren. Pastikan jelas rekam jejak pengasuhnya, sistem pendidikannya, serta komitmennya dalam menciptakan lingkungan yang aman, sehat, dan bebas dari segala bentuk kekerasan,” ujar Gus Fahrur.
Suasana di sekitar padepokan yang menjadi lokasi kejadian, menurut pantauan, tampak sunyi dan dijaga ketat oleh pihak berwenang. Kasus ini menjadi pengingat pahit bahwa kekerasan bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat yang seharusnya menjadi pusat pembinaan moral.
Editor: Yoga Santoso
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Gereja Katolik di Mimika Ludes Terbakar, Diduga Akibat Lilin Lupa Dipadamkan
Golkar DKI Jakarta Salurkan 117 Hewan Kurban di Lima Wilayah Jakarta
Pensiunan BUMN Sukses Kembangkan Budi Daya Ikan Nila Bioflok Berkat Pinjaman BRI
Wakil Ketua Komisi XIII DPR: Penggunaan APBN untuk Kurban Presiden Bukan Hal Baru, Sudah Berlangsung Sejak Era Sebelumnya