PARADAPOS.COM - Kenaikan harga BBM non-subsidi per 10 Juni 2026, termasuk Pertamax, mendorong pemilik kendaraan beralih ke bahan bakar lebih ekonomis seperti Pertalite (RON 90). Namun, pemilihan BBM tidak bisa hanya berdasarkan harga; spesifikasi mesin, terutama rasio kompresi, harus diperhatikan agar pembakaran optimal dan mesin awet. Berikut panduan dan daftar mobil yang aman menggunakan Pertalite.
Kriteria Mesin untuk Pertalite
Secara umum, Pertamina merekomendasikan penggunaan BBM berdasarkan rasio kompresi mesin. Pertalite (RON 90) cocok untuk rasio kompresi 9:1 hingga 10:1. Sementara itu, Pertamax (RON 92) untuk rasio 10:1 hingga 11:1, Pertamax Green (RON 95) untuk 11:1 hingga 12:1, Pertamax Turbo (RON 98) untuk 11:1 hingga 13:1, dan Pertamax Racing (RON 100) untuk di atas 13:1.
Selain rasio kompresi, ketentuan lain menyebutkan bahwa kendaraan dengan kapasitas mesin di bawah 1.400 cc masih termasuk kategori yang dapat menggunakan Pertalite. Hal ini menjadi acuan bagi pemilik mobil untuk menentukan pilihan.
Daftar Mobil yang Aman Menggunakan Pertalite
Berdasarkan ketentuan tersebut, berikut adalah beberapa model mobil yang aman menggunakan Pertalite:
- Toyota Raize
- Toyota Calya
- Toyota Avanza
- Daihatsu Rocky
- Daihatsu Sirion
- Daihatsu Sigra
- Daihatsu Xenia
- Honda Brio
- Honda Mobilio
- Suzuki S-Presso
- Datsun Go dan Go
- Kia Picanto
- Nissan March
- Nissan Livina
Meski daftar ini cukup panjang, pengguna tetap disarankan mengecek buku manual kendaraan masing-masing. Sebab, rekomendasi pabrikan seringkali lebih spesifik dan mempertimbangkan desain mesin secara keseluruhan.
Di lapangan, banyak bengkel dan mekanik juga mengingatkan bahwa penggunaan BBM dengan RON lebih rendah dari rekomendasi mesin bisa menyebabkan knocking atau detonasi. Akibatnya, performa mesin menurun dan konsumsi bahan bakar justru bisa lebih boros dalam jangka panjang.
“Pemilihan bahan bakar tidak bisa hanya didasarkan pada harga. Pengguna kendaraan juga perlu memperhatikan spesifikasi mesin, terutama rasio kompresi, agar proses pembakaran berlangsung optimal serta performa dan usia pakai mesin tetap terjaga,” tutur seorang teknisi dari bengkel resmi di Jakarta.
Dengan demikian, langkah beralih ke Pertalite memang ekonomis, tetapi harus diimbangi dengan pengetahuan teknis agar tidak merugikan di kemudian hari.
Artikel Terkait
Menlu RI di KTT ASEAN-Rusia: Dorong Kerja Sama Energi-Pangan dan Soroti Palestina
PT KBI Resmikan Gudang SRG Berbasis Rel di Gedebage, Integrasikan Logistik Komoditas dengan Kereta Api
Presiden Prabowo Panggil Direksi Himbara, Minta Bank BUMN Jadi Motor Penggerak Ekonomi Nasional
BGN Pastikan Tak Ulangi Belanja Kurang Manfaat demi Efisiensi Program Makan Bergizi Gratis 2026