Harga Emas Naik Tipis di Tengah Pelemahan Dolar dan Gencatan Senjata Israel-Lebanon

- Jumat, 05 Juni 2026 | 02:00 WIB
Harga Emas Naik Tipis di Tengah Pelemahan Dolar dan Gencatan Senjata Israel-Lebanon
PARADAPOS.COM - Harga emas mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, didorong oleh pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak mentah. Sentimen positif ini muncul setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon, yang kembali membuka harapan bagi upaya diplomatik untuk meredakan konflik yang lebih luas di kawasan. Berdasarkan data pasar, harga emas spot naik 0,9 persen ke level USD4.475,41 per ons, sementara harga emas berjangka menguat 0,8 persen menjadi USD4.502,25 per ons.

Gencatan Senjata Israel-Lebanon Picu Optimisme Baru

Israel dan Lebanon sepakat memperbarui gencatan senjata mereka, sebuah langkah yang dinilai mampu membuka jalan bagi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan antara Washington dan Teheran sendiri digantungkan pada penghentian pertempuran di Lebanon, di mana pasukan Israel yang didukung AS selama ini terlibat bentrok dengan militan Hizbullah yang didukung Iran. Setelah melewati putaran keempat diskusi yang dimediasi oleh AS, kedua negara menyatakan bahwa gencatan senjata akan “bergantung pada penghentian total tembakan Hizbullah dan evakuasi semua anggota Hizbullah” dari wilayah di selatan Sungai Litani, Lebanon selatan. “Langkah-langkah ini akan memungkinkan kemajuan menuju kesepakatan perdamaian dan keamanan yang komprehensif,” demikian bunyi pernyataan bersama yang dirilis setelah negosiasi. Perlu dicatat, Hizbullah tidak terlibat langsung dalam proses perundingan tersebut. Pengumuman ini sedikit meredakan ketegangan yang justru meningkat di awal pekan, menyusul serangan baru antara AS dan Iran yang sempat menghambat laju pembicaraan damai. Analis pasar senior di Trade Nation, David Morrison, memberikan pandangannya. “(Gencatan senjata) telah meningkatkan harapan Iran akan kembali ke meja perundingan, karena salah satu syaratnya untuk melanjutkan pembicaraan adalah Israel menghentikan perangnya di Lebanon. Hizbullah tetap menjadi faktor yang tidak pasti di sini. Meskipun AS dan Iran telah mengabaikan pelanggaran gencatan senjata satu sama lain sejak April, hal itu mungkin tidak akan terjadi pada Israel dan Hizbullah. Waktu akan menjawabnya,” ujarnya. Pada Rabu, Presiden Donald Trump mengisyaratkan bahwa kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran bisa tercapai paling cepat akhir pekan ini. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran menyebut kontak dengan Washington belum sepenuhnya terputus. Sebelumnya, di awal pekan, beredar laporan media yang menyebut Teheran sempat menghentikan komunikasi dengan AS melalui mediator. Menurut laporan Wall Street Journal, Trump juga telah menyampaikan kepada para ajudannya bahwa ia tidak akan melanjutkan serangan terhadap Iran kecuali ada personel AS yang terbunuh. Di dalam negeri, Gedung Putih kemungkinan menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengakhiri perang. Dewan Perwakilan Rakyat, yang saat ini dikuasai oleh partai Republik pendukung Trump, telah memberikan suara mendukung resolusi yang membatasi wewenang presiden untuk melanjutkan konflik. Meski demikian, langkah ini masih membutuhkan persetujuan Senat dan dukungan mayoritas dua pertiga di kedua kamar untuk bisa mengesampingkan veto presiden.

Ekspektasi Suku Bunga The Fed Ikut Mereda

Di tengah dinamika geopolitik tersebut, harga minyak dunia akhirnya menghentikan laju kenaikan yang berlangsung tiga hari berturut-turut pada Kamis. Kondisi ini turut membantu meredakan tekanan inflasi yang sempat mengkhawatirkan pasar. Sebelumnya, lonjakan harga minyak mentah telah mendorong para pedagang untuk meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Hal ini juga memicu aksi jual obligasi pemerintah, yang pada akhirnya mendongkrak imbal hasil. Namun, data ekonomi AS yang solid di pasar tenaga kerja pekan ini mulai mengubah arah ekspektasi suku bunga. Pelaku pasar kini menanti laporan penggajian non-pertanian bulan Mei yang akan dirilis pada Jumat—sebuah indikator yang selalu dipantau ketat. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi biasanya menjadi tekanan bagi aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil tetap. Analis di UBS, dalam sebuah catatan, menyampaikan pandangan mereka. “Kami memperkirakan sebagian besar bank sentral di pasar negara maju—termasuk Federal Reserve, Bank of England, dan lainnya—akan mempertahankan suku bunga tidak berubah dalam waktu dekat,” ungkapnya.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar