PARADAPOS.COM - Nilai tukar dolar Amerika Serikat menunjukkan pelemahan tipis pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, saat sentimen risiko pelaku pasar menguat seiring kabar gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Indeks dolar AS, yang menjadi tolok ukur terhadap enam mata uang utama dunia, tercatat turun 0,1 persen ke level 99,45. Pergerakan ini terjadi di tengah meningkatnya optimisme bahwa langkah diplomatik ini dapat membuka jalan bagi pengakhiran konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Gencatan Senjata Meredakan Ketegangan Geopolitik
Israel dan Lebanon sepakat untuk memperbarui gencatan senjata mereka. Kesepakatan ini dinilai sebagai katalis positif yang meningkatkan harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Dalam dinamika regional, kesepakatan antara Washington dan Teheran sangat bergantung pada penghentian pertempuran di Lebanon, di mana pasukan Israel yang bersekutu dengan AS selama ini terlibat kontra-militer melawan kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Setelah melewati putaran keempat diskusi yang dimediasi oleh Amerika Serikat, kedua negara menyatakan bahwa gencatan senjata akan "bergantung pada penghentian total tembakan Hizbullah dan evakuasi semua anggota Hizbullah" dari wilayah di selatan Sungai Litani, Lebanon selatan.
“Langkah-langkah ini akan memungkinkan kemajuan menuju kesepakatan perdamaian dan keamanan yang komprehensif,” demikian bunyi pernyataan bersama tersebut. Perlu dicatat bahwa Hizbullah tidak ikut serta dalam negosiasi tersebut.
Pengumuman ini secara langsung meredakan ketegangan yang justru meningkat tajam pada awal pekan, dipicu oleh serangan baru antara AS dan Iran yang sempat menghambat laju pembicaraan damai.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump pada hari Rabu mengisyaratkan bahwa kemajuan dalam pembicaraan dengan Iran bisa saja tercapai pada akhir pekan ini. Sinyal serupa datang dari Teheran; menteri luar negeri Iran menyatakan bahwa kontak dengan Washington belum sepenuhnya terputus. Hal ini kontras dengan laporan media awal pekan yang menyebutkan Teheran telah menghentikan pengiriman pesan ke AS melalui mediator.
Menurut laporan Wall Street Journal, Trump telah menyampaikan kepada para pembantunya bahwa ia tidak akan melanjutkan serangan terhadap Iran kecuali ada personel AS yang tewas.
Gedung Putih juga kini menghadapi tekanan domestik yang semakin besar untuk mengakhiri perang. Dewan Perwakilan Rakyat, yang dikuasai oleh Partai Republik pendukung Trump, memberikan suara mendukung resolusi yang menghalangi presiden untuk melanjutkan konflik. Namun, rancangan undang-undang tersebut masih membutuhkan persetujuan Senat dan dukungan mayoritas dua pertiga di kedua kamar untuk mengesampingkan potensi veto dari Trump.
Dampak pada Harga Minyak dan Ekspektasi Suku Bunga
Dengan latar belakang meredanya ketegangan ini, harga minyak dunia mengakhiri kenaikan tiga hari berturut-turut pada hari Kamis. Kondisi ini turut membantu meredakan tekanan inflasi yang sempat mengkhawatirkan pasar. Sebelumnya, lonjakan harga minyak mentah telah mendorong para pedagang untuk meningkatkan ekspektasi mereka terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve secara signifikan, sekaligus memicu aksi jual obligasi pemerintah yang mendorong imbal hasilnya naik.
Meski demikian, data ekonomi AS yang solid di pasar tenaga kerja sepanjang pekan ini justru berkontribusi pada penurunan ekspektasi suku bunga. Fokus pasar kini tertuju pada laporan penggajian non-pertanian bulan Mei yang akan dirilis pada hari Jumat. Lingkungan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi faktor penguat bagi nilai tukar dolar.
Yen Jepang Kembali Tertekan di Ambang Intervensi
Di kawasan Asia, yen Jepang kembali menunjukkan pelemahan. Mata uang Negeri Sakura ini mencapai level 160 terhadap dolar AS untuk hari ketiga berturut-turut. Angka tersebut merupakan level psikologis di mana Bank of Japan dan Kementerian Keuangan Jepang diperkirakan akan melakukan intervensi untuk menstabilkan mata uang.
Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, pada hari Rabu menyatakan bahwa para pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika risiko inflasi menjadi lebih signifikan dibandingkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Pasangan USDJPY kembali menembus level 160,00 untuk pertama kalinya sejak akhir April. Saat itu, pasangan ini naik ke 160,70, level tertinggi dolar terhadap yen sejak Juli 2024. Dalam kedua kasus tersebut, pelemahan yen ini memicu intervensi," ujar analis pasar senior di Trade Nation, David Morrison.
"Seperti yang terlihat, intervensi gagal. Tetapi sementara pada tahun 2024 butuh sekitar tiga bulan untuk pulih, dan bahkan USDJPY tidak kembali ke 160,00, kali ini hanya butuh sedikit lebih dari satu bulan," jelasnya.
"Kementerian Keuangan Jepang, serta Bank Sentral Jepang, pasti sangat frustrasi, dan bertanya-tanya apa yang diperlukan untuk memperkuat mata uang mereka. Pasar akan menunggu dan melihat, dengan banyak pelaku pasar yakin bahwa intervensi jarang berhasil, meskipun dapat mengusir spekulan untuk sementara waktu," pungkas Morrison.
Editor: Reza Pratama
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Targetkan Akhiri Puasa 38 Tahun Tanpa Kemenangan Lawan Oman
Mantan Wakil Kepala BGN Sony Sonjaya Siap Jadi Justice Collaborator Ungkap Korupsi Makan Bergizi Gratis
Kemendagri Beri Penghargaan Pemda Berprestasi Regional Jawa-Bali, Ini Kategori dan Besaran Bantuan
Kodam III/Siliwangi Tahan Prajurit TNI Terduga Pelaku Pengeroyokan Anggota Brimob di Serang